Minggu, 09 Agustus 2015

Kristen Jaminan Mutu


Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Matius 28.19-20

Jemaat sekalian, jika anda pergi ke pantai; cobalah buat rumah dari pasir. Pasir itu gampang dibentuknya; cukup tambahkan air sedikit, anda bisa membuat bentuk-bentuk seperti yang anda inginkan. Coba kita pikirkan; seandainya kita bisa membuat sebuah istana dari pasir yang sangat bagus dimana setiap bentuk dan setiap lekuk dari istana pasir itu mampu kita buat dengan sangat detail sehingga hasilnya pun begitu memuaskan; namun apakah yang terjadi jika tiba-tiba ada ombak besar datang; dan ombak tersebut mengenai istana pasir yang megah yang kita sedang buat? Yang terjadi adalah istananya pasti hilang rusak atau roboh disapu oleh ombak.

Sekarang coba bandingkan; kita bikin rumah di pantai, tapi rumahnya dari batu. Batu itu sudah dibentuknya, karena keras, tidak seperti pasir yang gampang dibentuk. Mungkin saat kita berhasil bikin rumah dari batu, hasilnya pun tidak semenarik dibandingkan rumah dari pasir. Namun saat ada ombak besar datang dan mengenai rumah batu tersebut; apa yang terjadi? Yang terjadi adalah rumah batu kita tetap ada; tidak seperti rumah pasir yang kita buat yang hancur dalam sekejap saat ada ombak. Kenapa bisa demikian? Karena rumah tersebut dari batu, bukan dari pasir; rumah batu lebih tahan uji dibanding dari pasir; rumah dari batu itu Jaminan Mutu.

Mengapa ada orang Kristen yang satu tahan uji dan jaminan mutu, tetapi yang lain tidak tahan uji dan tidak berkualitas? Dalam pembelajaran saya dengan firman Tuhan, saya melihat bahwa injil Matius dapat menolong kita mengerti persoalan ini. Mengapa ada orang tertentu yang tahan uji dan mengapa ada orang tertentu yang tidak punya kualitas dalam mengikut Tuhan.

Matius 28.19-20 merupakan sala satu teks yang menjadi pusat dari injil Matius. Dalam teks ini ada dua perintah yang Tuhan berikan kepada murid-muridnya sebelum ia terangkat ke sorga. Perintah yang pertama adalah “pergi kepada dunia, jadikan mereka murid Tuhan dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Perintah yang kedua adalah ajarlah mereka untuk melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu.
Saya ingin mengajak anda untuk memikirkan aspek kedua dari perintah Tuhan yakni “ajarlah mereka untuk melakukan apa yang Tuhan telah ajarkan kepada umat Tuhan.” Aspek ini adalah kunci untuk memahami kualitas dari Kekristenan kita.

Sewaktu membaca ayat ini ada satu persoalan yang dihadapi oleh banyak orang Kristen dengan ayat ini. Persoalan tersebut adalah kita bukanlah orang yang suka belajar firman Tuhan. Belajar firman Tuhan bukanlah hal yang kita jadikan hobi dalam hidup kita. Ada banyak alasan yang bisa dikemukakan untuk tidak belajar firman Tuhan.

Alasan yang pertama, kita biasa mengatakan bahwa kita sibuk. Kita sibuk cari uang; kita sibuk ngurus keluarga; kita sibuk kerjakan tugas kuliah; ada banyak hal dalam hidup kita dan dalam dunia ini yang bikin kita sibuk. Alasan yang kedua, kita biasanya mengatakan bahwa kita tidak mengerti apa yang kita baca, jadi percuma belajar firman Tuhan. Baca Alkitab itu lain dari baca komik atau majalah; kalau baca komik, kita tidak perlu lihat tulisannya, cukup lihat gambarnya langsung kita ngerti ceritanya. Kalau baca majalah, kita tidak perlu harus menyediakan kopi atau hal lainnya yang bisa mencegah kita dari mengantuk; cukup langsung baca, isinya menarik dan langsung ngerti. Tapi coba kalau baca Alkitab atau belajar Alkitab; baru baca 5 ayat langsung ngantuk dan berkata “ngga ngerti.” Alasan yang ketiga, kita biasanya berkata “saya bukan pendeta, saya bukan juga majelis, saya hanya jemaat biasa, jadi ngga perlu lah belajar Alkitab; toh di sorga juga tidak ada kuis Alkitab.” Mungkin ada juga orang yang berkata “belajar Alkitab itu wajib untuk pendeta, majelis gereja, guru sekolah minggu, tapi untuk jemaat biasa kaya kita, itu tidak terlalu diperlukan.”
Pertanyaannya adalah kenapa belajar Alkitab itu penting? Alasannya tentu adalah karena Tuhan meminta kita untuk melakukannya. Tuhan meminta supaya murid-murid Tuhan mengajar jemaat perintah Tuhan; itu berarti tugas jemaat adalah belajar Firman Tuhan.

Jika yang memerintahkan untuk belajar firman Tuhan itu adalah saya, seorang pendeta dan seorang manusia, bapak dan ibu boleh mengabaikannya. Namun jika yang memerintahkan untuk belajar Firman Tuhan itu adalah Yesus yang adalah Tuhan dalam hidup kita, mana bisa dan mana boleh kita mengabaikannya.
Namun, mengapa belajar Firman Tuhan itu penting? Apa manfaatnya bagi hidup kita? Jawabannya adalah sebab melalui belajar firman Tuhan itulah, Tuhan sedang membentuk hidup kita menjadi orang yang lebih baik. Dalam Kisah 17.11 diceritakan mengenai jemaat di kota Berea yang hatinya dikatakan lebih baik atau lebih mulia dibandingkan dengan jemaat Tesalonika. Apakah yang membuat jemaat ini hatinya menjadi lebih baik? Jawabannya adalah karena jemaat ini menerima firman Tuhan dengan antusias.

Jika ada percaya dengan apa yang Alkitab perlihatkan dan ajarkan, maka anda juga harus percaya bahwa cara Tuhan dalam mengubahkan hidup manusia memang adalah melalui Firman Tuhan. Itulah sebabnya mempelajari firman Tuhan itu sangatlah penting dalam hidup seorang Kristen sebab tanpa Firman Tuhan, hidup kita tidak mungkin bisa berubah menjadi lebih baik.
Mungkin bapak dan ibu berkata kepada saya: “apa benar orang yang suka belajar firman Tuhan hidupnya pasti lebih baik?”

Memang kita harus akui bahwa ada orang-orang tertentu yang walaupun ia rajin belajar firman Tuhan, namun hidupnya tidak berubah. Saya pernah melihat ada beberapa anak muda di gereja saya yang pengetahuannya tentang Alkitab memang banyak. Dia suka baca buku-buku teologi; dia hafal banyak ayat; dia juga tahu banyak tentang filsafat Kristen dst. Yang kurang dari anak muda ini adalah kerendahan hati; dia dikenal sombong dan cenderung memandang rendah orang lain.

Pertanyaanya adalah mengapa bisa demikian? Jawabannya adalah sebab belajar firman Tuhan bukan hanya sekedar menambah pengetahuan. Inilah yang injil Matius ingin tekankan dalam Matius 28.20 sehingga ia berkata: “setelah kamu pergi memberitakan injil dan membaptiskan mereka maka ajarlah mereka untuk melakukan apa yang kuperintahkan kepadamu.”

Inilah pesan inti dari injil Matius bahwa kita mesti bukan sekedar dan sebatas belajar firman Tuhan, namun harus sampai menjadi orang yang belajar untuk melakukan firman Tuhan. Bukan jadi sekedar pendegar namun pelaku firman Tuhan.

Jika kita hanya menjadi orang yang suka belajar Firman Tuhan namun tidak kita lakukan, maka kita akan kena penyakit yang Yesus sebut “kemunafikan.” Kita akan menjadi seperti orang-orang Farisi dan ahli-hali Taurat yang ditegur Yesus karena kehidupan rohani mereka yang palsu.

Siapakah orang Farisi itu? Mereka adalah orang-orang yang punya banyak keistimewaan; mereka adalah pengkhotbah-pengkhotbah yang sangat baik di zamannya. Persoalannya adalah banyak dari orang-orang ini yang Yesus katakan walaupun pengetahuannya bagus, namun mereka cuma bisa ngajar tanpa mempraktekan apa yang mereka ajarkan. Inilah alasannya mereka disebut Yesus sebagai orang-orang munafik.

Inilah yang juga menjadi persoalan kita; firman Tuhan tidak kita baca; atau kalaupun kita baca kita hanya menjadikannya pengetahuan namun tidak dipraktekan dalam hidup kita. Dan ini membuat orang jadi sombong; membuat orang jadi aneh and membuat spiritualitas Kristen jadi tidak sehat. Banyak pengetahuan namun tidak nyata dalam kelakukan; itulah namanya kemunafikan.

Persoalannya adalah siapapun kita bisa menjadi orang munafik. Saya dan anda bisa jadi tampil baik di gereja; saya dan anda bisa saja punya banyak pengetahuan iman, namun jika pengetahuan iman yang kita miliki tidak kita praktekan dalam kehidupan nyata; maka apa bedanya kita dengan orang Farisi yang munafik?

Itulah sebabnya penting sekali kita mendengarkan apa yang Matius pesankan kepada kita. Apakah itu? “Belajarlah Melakukan Perintah Tuhan.” Belajar firman Tuhan itu penting; bahkan sangat penting. Kita tidak bisa melakukan pentintah Tuhan dengan benar, jika kita tidak mengerti Firman Tuhan itu seperti apa. Namun kita tidak boleh dan tidak bisa berhenti pada sekedar belajar Firman Tuhan; namun kita harus menjadi orang yang “belajar melakukan” apa yang Tuhan perintahkan.
Tuhan Yesus memperingatkan kita bahwa “bukan orang yang berseru-seru” Tuhan yang akan masuk dalam kerajaan sorga? Demikian juga, “Bukan juga orang yang bernubuat demi namaku” yang akan diterima dalam kerajaan Tuhan; dan bukan juga orang yang mengusir setan dan melakukan banyak mukjizat yang akan diterima Tuhan kelak. Orang yang akan diterima Tuhan adalah orang yang BELAJAR MELAKUKAN kehendak Tuhan dalam hidupnya.

Demikian juga dengan gambaran mengenai orang yang membangun rumah diatas pasir dan karang; apakah yang membedakan keduanya? Yang satu hanya menjadikan firman Tuhan sebagai pengetahuan; dan yang satunya lagi adalah orang yang BELAJAR MELAKUKAN apa yang dia pelajari. Dan hasilnya sungguh berbeda; orang yang BELAJAR MELAKUKAN perintah Tuhan, tumbuh menjadi orang yang tahan uji. 

Tidak ada komentar: