Sabtu, 24 Januari 2015

Uniknya Hidup Orang Percaya

"Paulus, 'hamba' milik Kristus Yesus, dipanggail (menjadi) rasul (dan) dikhususkan untuk injil Allah." Roma 1.1

Surat Roma dituliskan sekitar tahun 55-57 Masehi. Walaupun surat Roma dapat dipastikan ditulis oleh Paulus, namun tujuan dari kepenulisan surat ini cukup sulit untuk ditentukan. Ada kemungkinan surat ini ditulis untuk beberapa tujuan misalnya saja sebagai "pendahuluan" untuk menolong jemaat mengenal Rasul Paulus atau untuk menjawab pertanyaan persoalan tertentu mengenai orang-orang Yahudi Kristen dalam komunitas orang Kristen bukan Yahudi. Jemaat Roma sendiri bukanlah dirintis oleh rasul Paulus; ada kemungkinan bahwa Priskila dan Aquila pernah melayani di kota Roma (bdk. Kis. 18.1-2), namun hal ini tidak berarti bahwa merekalah perintis dari jemaat Roma. Meskipun Paulus belum pernah berjumpa secara langsung dengan jemaat Roma, namun ia sering mendengar mengenai jemaat ini dan ia bermaksud untuk mengunjungi jemaat ini.

Kepada jemaat yang belum pernah berjumpa secara pribadi dengannya, Paulus memperkenalkan dirinya sebagai seorang 'hamba' milik Kristus Yesus, seorang rasul, dan seseorang yang telah dikhususkan untuk injil.

Istilah "hamba" milik Yesus Kristus tidak digunakan dalam pengertian yang harafiah sebab Paulus tidak pernah menjual dirinya sendiri (dalam pengertian harafiah) kepada Yesus; istilah "hamba" dalam Perjanjian Lama saat dikaitkan dengan gagasan "Allah" biasanya digunakan untuk membicarakan orang-orang tertentu yang memiliki panggilan khusus dari Allah misalanya saja seorang nabi; sebagai contoh dalam Kel. 14.31, Musa disebut sebagai "hamba-Nya" (hamba Allah). Pada saat Rasul Paulus menyebut dirinya sebagai "hamba" milik Yesus Kristus; ia menyenyajarkan Kristus Yesus dengan Allah dalam PL dan menyenyajarkan posisinya seperti nabi dalam PL yakni orang yang menerima panggilan khusus dari Tuhan. 

Namun apakah panggilan khusus dari Tuhan atas Paulus? Paulus menyebutkan dua hal yakni sebagai rasul dan orang yang dikhususkan untuk injil. Rasul dalam Perjanjian Baru bisa digunakan dalam pengertian yang umum yakni menunjuk pada orang-orang yang berperan sebagai rasul diluar 12 murid Rasul yang dipilih oleh Yesus sendiri, namun Rasul juga digunakan untuk menunjuk kelompok murid Tuhan yang memiliki panggilan dan jabatan khusus dalam gereja perdana. Bagaimana rasul Paulus menggunakan istilah "rasul" tanpa "definite article" mengindikasikan bahwa ia tidak mencoba mengidentifikasikan dirinya dengan 12 murid Yesus yang memiliki panggilan khusus dalam gereja mula-mula. Paulus sebenarnya memiliki kapasitas (bdk. 1Co. 15.9) untuk mendapatkan kedudukan yang setara dengan 12 para rasul khusus lainnya, namun ia tidak melakukan hal itu dalam upayanya memperkenalkan dirinya kepada jemaat Roma. 

Rasul Paulus memilih untuk memperkenalkan dirinya sebagai rasul yang memiliki panggilan khusus untuk Injil. Istilah injil tidaklah mudah untuk kita definisikan. Orang-orang Romawi menggunakan istilah injil untuk membicarakan mengenai "pengharapan akan masa yang baru" yang mereka percayai akan datang melalui kerajaan Roma. Rasul Paulus menggunakan pasti memahami latar belakang pemikiran ini; itulah sebabnya saat rasul Paulus menjelaskan mengenai injil dalam kaitannya dengan karya Yesus (bdk. Rom. 1.2-4), maka ia secara tidak langsung menunjukkan keyakinannya bahwa pengharapan akan datangnya masa yang baru, zaman pembaharuan, datang bukan dari dunia dan kerajaan Roma, namun datang dari atas, dalam Kristus, melalui kedatangan kerajaan Allah.

Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari Roma 1.1. Pertama, Allah mau memanggil dan berkenan memakai manusia sebagai sarana dari karya dan pekerjaan-Nya. Dalam Roma 1.1, Rasul Paulus beberapa kali menggunakan kata kerja "passive" untuk menegaskan bahwa Allah yang berinisiatif dan menentukan panggilan seseorang. Allah tentu tidak membutuhkan manusia untuk mengerjakan rencana-Nya, namun ia memilih untuk memakai manusia; itu berarti orang-orang yang menerima panggilan untuk dipakai Allah sebagai alat bagi kerajaan-Nya adalah orang-orang yang menerima panggilan dan kepercayaan yang mulia. Kedua, kita harus belajar untuk bersyukur dan memuliakan Tuhan saat kita menerima kepercayaan untuk melayani Tuhan dalam bidang kita masing-masing. Panggilan dan kepercayaan Tuhan bukanlah sesuatu yang seharusnya menjadi beban yang kita kerjakan dengan keluh kesah dan terpaksa; pelayanan adalah hal yang indah dan kepercayaan yang berharga, itulah sebabnya kerjakan tanggung jawab pelayanan kita dengan baik. Ketiga, semua orang percaya menerima panggilan untuk melayani Tuhan dalam kehidupannya dan pekerjaannya dalam dunia ini; pelayanan tidaklah terbatas dalam gereja; pekerjaan dan tanggung jawab yang kita pikul setiap hari termasuk mengurus keluarga (bagi ibu rumah tangga) adalah pelayaan pekerjaan Tuhan; itulah sebabnya, kita harus mengerjakan segala sesuatu yang kita harus kerjakan dengan penuh ucapan syukur dan dengan sukacita.      

Tidak ada komentar: