Minggu, 16 November 2014

Blame Game

Yakobus 1.1-4; Kis. 8.1
A.      Introduksi
Satu kali ada roh jahat datang kepada Tuhan untuk protes; jika biasanya manusia yang datang untuk protes kepada Tuhan atas ulah iblis dan roh-roh jahat, namun kali ini hal yang sebaliknya yang terjadi. Roh jahat berkata “Tuhan saya mau protes sebab manusia itu ternyata lebih jahat dari saya,” lalu Tuhan berkata “kenapa kamu bilang begitu?” lalu roh jahat itu berkata, “ coba saja Tuhan bayangkan, satu kali saya sedang mengamati manusia dalam sebuah kendaraan umum; kemudian saat kendaraan itu sedang penuh; ada seseorang yang kentut. Saat itu terjadi, maka semua penumpang dalam kendaraan tersebut saling pandang satu yang lain termasuk orang yang kentut, karena ia takut ketaahuan.” Setelah mereka saling pandang satu sama lain, kemudian mereka semua tertawa terbahak-bahak, dan berkata “setan kali yang kentut.” Roh jahat kemudian berkata lagi “coba Tuhan bayangkan, masa saya yang dituduh kentut?”
Kita mungkin tertawa mendengar anekdot ini, namun anekdot ini menyiratkan satu aspek yang sering kali ada dalam diri semua manusia; apakah itu? Kebiasaan dan pola untuk “menyalahkan” saat kita sedang dalam persoalan.
B.      Manusia cenderung melakukan ‘Blame game” saat terjadi sebuah kesalahan/persoalan
Entah disadari ataupun tidak, saat kita berhadapan dengan masalah atau persolan, kita cenderung untuk pertama-tama mencari “siapa yang salah” dalam masalah tersebut dari pada fokus dalam mencari solusi untuk persoalan yang kita hadapi.
Jika kita menghadapi persoalan dalam keluarga kita, misalnya saja masalah keuangan, apakah yang biasanya kita lakukan? Kita biasanya tidak langsung memikirkan bagaimana cara mengatasi kesulitan keuangan dalam keluarga kita, namun yang kita cenderung lakukan adalah pertama-tama bepikir “siapa yang salah sampai kita menjadi kekurangan uang seperti ini.” Suami mungkin berkata “ini pasti gara-gara istri saya tukang belanja,” si istri barangkali berkata “ini pasti karena suami saya diam-diam ngasih duit ke orang tuanya.”
Inilah naturalnya manusia saat kita dalam persoalan, kita tidak pertama-tama mencari solusi dari persoalan tersebut, namun cenderung mencari “siapa yang bisa disalahkan” untuk persoalan tersebut. Inilah yang disebut dengan istilah “Blame Game.”
Saat kita mengalami masalah, siapa yang biasanya kita salahkan? Sebagian orang ada yang memiliki kecenderungan untuk menyalahkan orang lain; apapun masalahnya yang terjadi, orang tipe ini akan berkata “oh ini salahnya kamu...” atau “oh ini salahnya dia,” dst; dalam setiap masalah, yang salah adalah selalu orang lain, dan bukan dirinya. Tipe orang seperti ini, kita lihat ada dalam diri Adam; saat ia ketahuan memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat, ia bukannya mengaku bahwa ia salah, namun ia malah menyalahkan orang lain; ia salahkan Hawa.
Sebagian orang ada juga yang mempunyai kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri saat kita berhadapan dengan masalah. Jika ada masalah yang muncul misalnya saja di gereja, ia langsung berkata “saya yang salah.” Orang seperti ini kelihatannya “rohani,” namun sebenarnya tidak, ia menderita penyakit yang disebut “messianic syndrome.”
Sebagian orang lainnya sering menjadikan iblis sebagai tersangka dari setiap masalah yang dia hadapi. Saya pernah melihat ada orang yang minta seorang pendeta mengusir “roh malas” dalam diri anaknya. Ada juga yang percaya bahwa ada yang namanya “roh ngutang.” Kelompom orang seperti ini percaya bahwa masalah datang dari setan, makanya mereka percaya bahwa semua masalah harus diselesaikan pertama-tama dengan pengusiran setan.
Sebagian orang lainnya menyalahkan Tuhan atas masalah yang dia hadapi. Inilah tipe orang yang seperti Ayub; menganggap bahwa Tuhan bertanggung jawab untuk sakit dan penderitaan yang dia alami. Teman-teman Ayub menuding Ayub menderita karena dosa, namun Ayub menolak tuduhan tersebut sebab ia memang menderita bukan karena dosa; namun disisi yang lain Ayub kemudian menuding Tuhanlah yang ada dibalik penderitaannya.
Kira-kira anda dan saya termasuk jenis orang yang bagaimana saat kita menghadapi masalah? Apakah tipe orang yang menyahkan orang lain atau menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan setan atau menyalahkan Tuhan?
C.      Jemaat Kristen Yahudi di kota Yerusalem mengalami masalah penganiayaan
Dalam Yakobus 1.1, Yakobus mengatakan bahwa suratnya ditujukan kepada “dua belas suku diperatauan.” NIV menterjemahkan istilah ini lebih baik yakni “To the twelve tribes scattered among the nation.” Siapakah yang dimaksudkan dengan istilah 12 suku? Istilah 12 suku menunjuk kepada orang-orang Kristen yang berlatar belakang suku Yahudi. Namun orang Kristen Yahudi yang mana yang dibicarakan oleh Yakobus? Jika kita membandingkan dengan Kis. Rasul 8.1 disana dicatat mengenai jemaat Yerusalem yang juga dikatakan “scattered.”
Berdasarkan keterangan dari Kis. Rasul 8.1, kita dapat menyimpulkan bahwa 12 suku yang tercerai berai (“scettered”) yang dimaksudkan oleh Yakobus menunjuk pada jemaat Yahudi di kota Yerusalem.  Orang-orang Kristen Yahudi di kota Yerusalem ini adalah orang-orang Kristen perdana (jemaat yang pertama) yang lahir dari pemberitaan injil para rasul pada saat hari Pentakosta. Kita mesti ingat dengan kisah mengenai Petrus yang berkotbah di Yerusalem dan 3000 orang menjadi percaya dan dibaptiskan; dari 3000 orang jemaat ini ada yang berasal dari Yerusalem dan tinggal di Yerusalem; merekalah yang kemudian menjadi jemaat pertama di kota Yerusalem. Kepada mereka inilah nasehat Yakobus “anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh kedalam berbagai pencobaan” ditujukan.
Mengapa nasehat tersebut perlu disampaikan kepada jemaat Kristen Yahudi di Yerusalem? Masalahnya adalah karena mereka menghadapi penderitaan.  Penderitaan mereka muncul karena ada seorang Kristen bernama Stefanus, yang merupakan diaken pertama dalam jemaat mula-mula, yang terlalu berani berkotbah dan terlalu  keras mengkritisi agama Yahudi. Karena kotbah Stefanus ini menyentuh hal yang sensitive dari agama Yahudi, maka mereka menjadi tersinggung, dan dari sinilah muncul masalah. Persoalannya adalah yang kena masalah bukan hanya Stefanus, namun banyak orang Kristen lain, ternyata juga harus mengalami penganiayaan yang berat sehingga mereka sampai harus meninggalkan rumah dan pekerjaan mereka dan pindah ke kota lain.
Sekarang coba anda bayangkan, jika hari ini saya berkotbah dengan berani di televise; dan kemudian ada pemimpin dari keyakinan lain yang marah dan kemudian menghasut massa dan menggerakan pengikutnya untuk merusak gereja-gereja yang ada; dan kebetulan salah satu gereja yang dirusak adalah gereja anda; bukan hanya itu orang banyak bahkan kemudian merusak rumah anda karena anda dianggap bagian dari gereja yang mereka benci sehingga rumah anda dirusak dan harta anda dijarah. Kira-kira, jika anda mengalami hal yang demikian, apa yang akan anda katakan? Anda pasti akan berkata “ini gara-gara si Chandra Gunawan yang kotbahnya serampangan; coba dia lebih lembut ngomongnya atau apalah..., kita kan tidak akan ngalami hal seperti ini.”
Hal yang sama pasti menjadi pergumulan dari orang-orang Kristen di kota Yerusalem; mereka mungkin kecewa dan marah, dan mulai menyalahkan Stefanus atas penderitaan yang mereka alami. Mereka mungkin berkata “penderitaan ini adalah gara-gara si Stefanus; coba dia kotbahnya lebih hati-hati, kita tidak akan mengalami penderitaan seperti sekarang.”
D.      Respons dari Yakobus sebagai pendeta/gembala jemaat dari gereja Yerusalem
Oleh karena Petrus dan Yohanes lebih banyak terlibat dalam pelayanan pemberitaan injil; maka Yakobus, saudara Yesus, diserahi tanggung jawab untuk menggembalakan jemaat di kota Yerusalem. Saat Yakobus melihat jemaatnya mengalami penderitaan dan terusir dari kota Yerusalem, ia pasti memahami bahwa jemaat mungkin mulai kecewa dan jatuh dalam “blame game,” sibuk menyacari orang yang bisa disalahkan untuk masalah yang mereka hadapi.
Dalam konteks inilah Yakobus memberikan nasehat bahwa MASALAH SESUNGGUHNYA BISA MENJADI BERKAT bagi orang percaya. Yakobus berkata “anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.” Pencobaan yang Yakobus bicarakan terkait dengan masalah penderitaan yang dialami oleh jemaat Yerusalem yang timbul karena kotbah Stefanus; namun Yakobus ingin jemaat tidak sibuk dengan “blame game” atau mencari-cari siapa orang yang salah dalam penderitaan yang mereka alami, namun mereka harus belajar untuk terutama melihat kepada Allah dan belajar untuk percaya bahwa pencobaan (penderitaan) yang mereka alami akan membawa mereka kepada kebahagiaan (kepada berkat Allah).
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Maka Yakobus mengajarkan jemaatnya bahwa masalah yang diijinkan Tuhan terjadi dalam hidup kita akan membawa kita kepada “ketekunan.” Terlepas dari siapa yang salah dalam persoalan yang kita hadapi, namun masalah saat kita serahkan kepada tangan Tuhan, maka itu bisa menjadi alat ditangan Tuhan untuk membentuk kita menjadi orang yang tekun. Dan Yakobus berharap jemaat paham akan kebenaran ini, itulah sebabnya ia berkata “sebab kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Karena mereka sudah tahu akan kebenaran ini, maka berhentilah melakukan “blame game,” berhentilah menyalahkan stefanus atau orang lain atas masalah yang kita hadapi.
Ingat bahwa “ketekunan” yang lahir dari sebuah proses dimana kita belajar melewati masalah dan persoalan dengan cara yang benar, akan menghasilkan yang namanya “kedewasaan.” Yakubus berkata “biarlah ketekunan itu menperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan sesuatu apapun.” Istilah ‘buah yang matang,” dan istilah “sempurna dan utuh dan tak kekurangan sesuatu apapun” digunakan Yakobus untuk menggambarkan kedewasaan iman orang percaya yang akan muncul sebagai buah dari ketekunan kita dalam melewati dan menghadapi “persoalan.”
Jadi, “blame game” alias “suka cari kambing hitam saat kita dalam masalah” bukanlah karakter seorang Kristen. Masalah bisa datang dari mana saja; namun masalah yang diserahkan kepada tangan Tuhan akan menjadi alat yang membentuk hidup kita.
E.       Aplikasi
Apakah hari ini anda dan saya datang dengan masalah? Mungkin kita sedang memiliki masalah kesehatan fisik kita? Atau mungkin ada juga diantara kita yang datang dengan masalah dalam keluarga kita; mungkin kita sedang menghadapi masalah pekerjaan atau persoalan dengan keuangan keluarga kita; atau mungkin kita sedang memiliki masalah dengan gereja; atau mungkin masalah kita adalah dengan tetangga kita.
Ingat saat terjadi masalah, kita tidak perlu melakukan “Blame Game,” kita sibuk dalam mencari “siapa yang salah” dalam persoalan kita; kita tidak perlu menyalahkan orang lain ataupun diri kita sendiri saat kita berhadapan dengan masalah. Ingat bahwa masalah bisa datang dari mana saja. Yang paling penting adalah saat terjadi masalah, ingatlah bahwa dalam kehidupan orang percaya (i) setiap masalah dan semua masalah yang kita hadapi, (ii) yang kita serahkan kepada tangan Tuhan, (iii) itu bisa berusah menjadi sarana berkat Allah.
Inilah yang terjadi dengan Yusuf. JIka kita membaca kisah Yusuf; kita akan dibawa kepada kisah yang sangat memilukan. Siapa diantara kita yang pernah mengalami persoalan yang begitu rumit lebih dari pada Yusuf. Walaupun ia disayang oleh ayah dan ibunya, namun ia dibenci oleh saudara-saudaranya. Waktu kecil, ia dijual sebagai budak; bayangkan seorang anak rumahan seperti Yusuf, harus menghadapi dunia perbudakan yang sangat kejam dan mengerikan seorang diri. Namun tangan Tuhan ternyata tidak pernah lepas dari kehidupan Yusuf; sehingga pada akhirnya masalah malah menjadi berkat bagi Yusuf; masalah malah membuat Yusuf menjadi matang dalam kehidupannya sehingga ia siap menjadi orang yang memberkati bukan hanya keluarganya, namun bangsa lain.
Inilah yang akan terjadi dengan anda dan saya jika kita tidak berfokus pada masalah, namun pada rencana dan rancangan Allah dalam hidup anda dan saya. Yang dibutuhkan oleh orang percaya saat terjadi masalah adalah “berserah.” Apakah artinya berserah? Berserah bukanlah berarti “menyerah.” Seseorang yang berserah kepada Tuhan; ia dengan aktif menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Apa alasan seseorang harus belajar berserah kepada Tuhan? Ada dua alasan utama mengapa kita perlu belajar berserah kepada Tuhan.
Alasan pertama adalah sebab ada kontrol Allah atas dunia ini dan atas kita. Itulah yang kita lihat dalam kisah Yusuf bukan; dalam kisah hidup Musa; kisah hidup Yesus; kisah hidup Paulus dan kisah hidup kita bahwa yang mengendalikan hidup kita bukan masalah, bukan setan, bukan diri kita sendiri tetapi Tuhan. Sebesar apapun masalah kita dan sesulit apapun masalah yang kita hadapi dalam gereja ataupun dalam hidup kita; semuanya ada dalam kendali tangan Tuhan. Kepada siapa lagi kita dapat mempercayakan hidup selain kepada Tuhan.
Alasanya yang kedua adalah sebab ada pemeliharaan Allah dalam hidup kita. Tuhan bukan hanya mengendalikan segala sesuatu, Ia juga berkarya dalam memeliharakan segala sesuatu. Ingatkah kita dengan apa yang Tuhan Yesus ajarkan mengenai burung pipit? Mari kita membaca bersama-sama apa yang Tuhan Yesus ajarkan mengenai burung pipit dalam Lukas 12:6
“bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit, sesungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah.”
Bukankah kalimat ini begitu indah, berapakah harga burung pipit? (untuk konteks zaman sekarang kita mungkin dapat berkata) Lima ekor untuk 1 euro; namun kata Tuhan Yesus, binatang yang dalam ukuran manusia tidak berharga itu, tidak ada satupun yang dilupakan Allah, apalagi kita manusia yang dicipta Tuhan menut gambar dan rupa-Nya sendiri bahkan kita yang menjadi anak-anak Allah; bagaimana Tuhan akan melupakah kita? Jawabannya adalah tidak mungkin.
Jadi jika Tuhan ijinkan gereja kita mempunyai masalah; jika Tuhan injinkan hidup kita harus menghadapi masalah; itu bukan karena Tuhan lupa dengan kita, namun karena Tuhan punya rencana atas hidup kita; Dia ingin kita menjadi dewasa melalui proses belajar dari masalah dalam kehidupan. Mari kita membaca bersama-sama Yakobus 1.3-4 sekali lagi namun dalam bahasa yang berbeda.
“saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kita jatuh ke dalam berbagai masalah dalam kehidupan sebab kita tahu bahwa masalah dalam kehidupan itu menghasilkan ketekunan. Dan biarlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kita menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan sesuatu apapun.”

Inilah yang membuat kita harus percaya kepada Tuhan sebab ada pemeliharaan Tuhan atas hidup kita; Tuhan tidak pernah melupakan kita bahkan saat kita melupakan Tuhan. Amin.

Tidak ada komentar: