Rabu, 15 Oktober 2014

Hidup dan Pilihan Hidup

"Sebab itu baiklah kita jangan tertidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jada dan sadarlah." 1 Tesalonika 5.6.

Tentu bukan maksud Paulus mengatakan "jangan tertidur" dalam pengertian yang harafiah sebab manusia memang membutuhkan tidur. Dengan demikian, istilah "tidur" yang digunakan oleh Rasul Paulus pastilah menunjuk pada pengertian yang lain. Istilah ini pertama-tama haruslah dipahami dalam konteks kalimatnya dimana istilah "tidur" digunakan bersama-sama dengan istilah "berjaga-jaga" dan "sadar." Dalam konteks ini maka istilah "tidur" yang digunakan oleh Paulus berkaitan dengan kondisi dimana seseorang "tidak siap." Dalam konteks yang lebih luas lagi, Rasul Paulus dalam 1 Tesalonika 5 sedang membicarakan mengenai kedatangan hari Tuhan yang digambarkan seperti pencuri; artinya kedatangan hari Tuhan itu tidaklah diketahui waktu persisnya; meskipun demikian anak-anak Tuhan diminta oleh Rasul Paulus untuk mempersiapkan dirinya setiap hari untuk menyambut hari kedatangan Tuhan; dalam konteks ini maka nasehat Rasul Paulus supaya kita tidak tidur menunjuk pada "kesiapsediaan kita" dalam menantikan kedatangan Tuhan.

Bagaimanakah sikap atau kondisi dari orang Kristen yang dikategorikan sebagai "tidur?" Tentu dalam konteks 1 Tesalonika 5, kehidupan dalam dosa lah yang dikategorikan sebagai "tidur" dalam menantikan kedatangan Tuhan. Hidup dalam dosa itu tentu sesuatu yang abstrak dan dapat dipahami berbeda-beda sesuai dengan kondisi kita; bagi sebagian orang yang disebut dengan hidup dalam dosa itu adalah "terjerat dengan dosa-dosa seksual," bagi sebagai orang yang lain yang dimaksudkan dengan hidup dalam dosa adalah "terjerat dengan dosa-dosa sosial seperti misalnya menjadi penguasaha yang tidak jujur dengan urusan pajaknya," sebagian orang yang lain lagi mengkategorikan hidup dalam dosa sebagai "hidup dalam kekerasan." Hal ini terjadi karena setiap pengalaman kita bagi secara pribadi ataupun comunal mempengaruhi cara kita dalam menilai yang namanya "hidup dalam dosa."

Hal inipun disadari oleh pada penulis Alkitab, itulah sebabnya ada sekitar 40 istilah Alkitab yang digunakan untuk menjelaskan mengenai keberdosaan manusia. Hal ini terjadi mungkin karena manusia begitu pandai "berkelit" dari keberdosaannya, di sisi yang lain hal ini terjadi karena dosa itu adalah persoalan yang begitu kompleks sehingga membutuhkan begitu banyak istilah untuk menggambarkannya. Dari sekian banyak istilah yang digunakan Alkitab tentang dosa, setidaknya ada dua istilah yang sangat penting dan banyak digunakan dimana dosa itu dipahami sebagai "natur" dan "pemberontakan." Keberdosaan itu terkait dengan "natur" kita yang sudah jelak dan jahat dari lahirnya; kondisi inilah yang membuat kita tumbuh menjadi seorang "pemberontak" terhadap hukum Allah."

Waktu Rasul Paulus berbicara mengenai "jangan tidur," maka ia menasehati kita--setidaknya--untuk tidak lagi hidup dalam "natur keberdosaan kita" dan tidak lagi menjalani hdup yang "memberontak" pada perintah-perintah Tuhan. Sewaktu kita mendengar nasehat seperti ini, kita selalu bertanya "apakah mungkin hal tersebut dilakukan?" Tentu jika natur kita masih natur yang lama (natur orang berdosa), tentu kita tidak mungkin hidup berlawanan dengan natur keberdosaan kita; namun, kita adalah orang yang Rasul Paulus sebut sebagai "ciptaan baru," seseorang dengan "natur" yang baru sehingga kita sebenarnya mampu menjalani hidup yang baru.

Persoalannya selalu adalah natur hidup yang baru ini berlawanan dengan kebiasaan hidup yang lama dan akibatnya adalah kita menjadi hidup dalam persimpangan antara mengikuti natur kita yang baru atau mengikuti kebiasaan kita yang lama dalam dosa. Dalam konteks ini, Alkitab tentu meminta kita untuk pilih mengikuti natur kita yang baru dan jangan pilih kebiasaan lama kita untuk hidup dalam dosa. 

Hidup ini memang pada akhirnya merupakan sebuah pilihan. Kita harus menetukan apakah kita mau hidup benar ataukah tidak; kita harus menentukan apakah kita mau korupsi ataukah tidak; kita harus menentukan apakah kita mau tetap setia dalam pernikahan ataukah mau hidup terus dalam perselingkuhan; kita harus menentukan apakah mau menjadi orang yang "gila kerja" atau "bekerja bagi Tuhan," kita juga yang harus menentukan apakah kita akan menjadi seorang jemaat yang baik ataukah menjadi "pembuat onar" dalam gereja; dst. Pilihlah untuk hidup benar sesuai dengan natur kita yang baru, maka hidup kita akan lebih berbahagia. 


Tidak ada komentar: