Minggu, 26 Oktober 2014

Dampak Dosa

Kejadian 6:1-8

Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja." Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan. Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka." Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.

Siapakah diantara kita yang tidak pernah berbuat dosa? Bagimanakah respons kita saat kita berdosa? Sebagian orang Kristen mencoba untuk menyelesaikan sendiri setiap  dosa yang mereka lakukan; sebagian orang Kristen yang lain mencoba untuk meminta ampun atas dosa-dosanya tanpa benar-benar menghayati dan menyelesali kejatuhannya; dan sebagian orang Kristen lainnya ada juga yang tidak menyelesaikan dosa-dosanya; seolah-olah menganggap bahwa dosa akan selesai dengan sendirinya.

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita melihat bahwa dosa membawa danpak tertentu dalam kehidupan manusia, khususnya, saat hal tersebut tidak dibereskan. Apakah danpak dosa dalam kehidulan manusia?

1.       Dosa merusak setiap generasi keturunan manusia
Kejadian 6:1-8 adalah bagian dari Kejadian 4-6; dalam bagian ini dibandingkan dua generasi keturunan Adam yakni keturnan Adam melalui Kain dan keturunan Adam melalui Set. Dalam Kejadian 4, kita diperlihatkan bahwa keturunan Kain benar-benar hancur dan rusak; dosa itu bukan hanya merusak diri Kain, membuatnya menjadi orang yang bengis, dosa bahkan merusak anak-anaknya; dan Lamekh adalah keturunan Kain yang menjadi symbol dari kondisi terparah anak-anak Kain. Dalam Kejadian 5, kita diperlihatkan keturunan Adam yang lain, keturunan telah memberikan banyak pengharapan bagi Adam; melalui Seth dilahirkanlah anak-anak Adam yang lain, mereka dalam Kejadian 6 bahkan disebut sebagai anak-anak Allah.

Yang mengejutkan kita adalah Alkitab ternyata memperlihatkan bahwa dosa tidak berhenti berkarya dalam kehidupan Kain dan keturunannya; dosa juga ternyata mempengaruhi dan menghancurkan keturunan Adam yang lain, yakni keturunan Adam melalui Seth. Kondisi yang sama, bagaimana dosa menghancurkan dan memporakporandakan keturunan Kain, juga dialami oleh keturunan Seth. Jika Lamekh adalah gambaran dari kondisi terparah dari keturunan Kain, maka dalam Kejadian 6:5, Alkitab memperlihatkan kondisi yang tidak kalah parah juga dialami oleh keturunan Seth, dimana kecenderungan hati mereka selalu berbuahkan kejahatan.

Inilah kekuatan dosa; dosa itu bekembangbiak dan makin kuat; dosa merusak setiap orang siapapun mereka baik orang-orang yang lahir dalam keluarga yang jelak maupun baik, bahkan keluarga Kristen pun tidak luput dari acaman yang sama. Pertanyaannya adalah memang apa danpaknya jika dosa itu terus bergerak dan menjalar dalam kehidupan umat manuisia dari generasi kepada tiap generasi?

Dalam reflective commentary-nya Matthew Hendry menuliskan hal yang menurut saya penting untuk kita simak: ia berkata “saat dunia dipenuhi oleh orang berdosa; maka kekuatan dosa menjadi berlipat ganda dalam dunia ini.” Saya kira apa yang dipikirkan oleh Matthew Hendry sekitar 400 tahun lalu benar, kita harusnya sadar bahwa dunia ciptaan Tuhan ini akan terus semakin rusak dan hancur jika dunia kita semakin hari semakin dipenuhi oleh orang-orang berdosa yang menolak Allah dalam hidupnya.

Tahukah anda berapa bayi yang lahir setiap harinya di Indonesia? Sekitar 10.000 bayi per hari; dalam setahun 4 juta bayi; dalam 10 tahun ada 40 juta bayi. Bagaimana dengan didunia? Di dunia ini terjadi sekitar 380.000 bayi lahir per hari atau sekitar 134 milyar bayi per tahun nya lahir. Coba anda bayangkan seandainya dari 134 milyar bayi yang lahir per tahun itu 100 milyar diantaranya bukan orang percaya; artinya 100 milyar orang lahir per tahun sebagai orang berdosa; bagaimana nasib dunia ini?

Ingat dengan apa yang dikatakan Matthew Hendry; bertambahnya manusia berdosa dalam dunia ini membuat kekuatan dosa berlipat ganda dalam dunia ini. Itulah sebabnya, penting sekali orang-orang Kristen untuk memberitakan injil baik melalui kehidupan maupun perkataannya; itulah sebabnya penting sekali juga bagi para orang tua memperkenalkan Kristus pada anak-anaknya; jangan kita kalau anak-anak kita dilahirkan dalam keluarga Kristen, maka dosa tidak akan merusak kehidupan mereka. 

2.       Dosa membuat manusia menjadi mahluk yang menolak dan menjauhkan Tuhan

Dalam ayat 2 diperlihatkan bahwa anak-anak Set kemudian mengambil perempuan-perempuan menjadi istri mereka, siapa saja diantara mereka yang disukai mereka. Pernyataan Alkitab ini mengindikasikan bahwa keturunan Seth tidak menjadikan kehendak Tuhan sebagai acuan dan patokan dalam pilihan mereka dalam memilih pasangan hidup. Mereka memilih perempuan-perempuan yang akan mereka jadikan istri, menurut ukuran keinginan diri mereka sendiri, yakni menurut apa yang “mata mereka” lihat sebagai yang terbaik dan bukan menurut ukuran Tuhan.

Masih ingatkah kita dengan kisah panggilan Tuhan terhadap Daud; saat Samuel memandang anak-anak Isai satu demi satu; beberapa orang menyangka bahwa orang yang akan dipilih Tuhan adalah salah satu dari kakak Daud, namun Tuhan berkata apa? “bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”

Dalam keberdosaan kita, manusia cenderung untuk memilih sesuatu berdasarkan apa yang kita inginkan, apa yang menyenangkan mata kita; bukan terutama berdasarkan kehendak Tuhan. Hal inilah yang juga terjadi dengan keturunan Seth; mereka tidak menjadikan kehendak Tuhan sebagai acuan hidup mereka; mereka menjadikan keinginan diri mereka; apa yang mereka lihat baik menurut mata mereka sebagai ukuran dan acuan bagi hidup mereka.

Tindakan anak-anak Seth ini memperlihatkan bahwa mereka sedang menjadikan diri mereka sendiri Tuhan; Tuhan tidak diberi tempat dalam hidup mereka; dengan kata lain mereka menjadi orang yang “self-center.”

Dalam ayat 3a: “Roh Ku tidak akan selama-lamanya tinggal didalam manusia karena manusia itu adalah daging.” Saat manusia menolak Tuhan, maka Tuhan tidak mau lagi menyertai manusia. Yang membuat Tuhan tidak mau menyertai manusia adalah sebab manusia adalah “daging.” Apakah yang Alkitab maksudkan? Yang penulis Alkitab maksudkan adalah sebab manusia sekarang berorintasi pada “yang mortal” dan bukan pada yang “eternal” atau kekal.

Saat manusia tidak lagi menempatkan Tuhan sebagai hal yang eternal/kekal sebagai hal yang utama dalam hidupnya, dan mulai menjadikan hal-hal yang mortal sebagai hal utama yang dicarinya, maka disitulah dosa mulai bertumbuh dan berlipat ganda.

Ingat dengan apa yang Paulus katakan dalam Roma 1; akar dari segala kejahatan manusia terletak pada penolakan manusia kepada Tuhan; saat menusia tidak mau menjadikan Tuhan dan kehendak Tuhan sebagai acuan hidupnya; sebaliknya manusia ingin menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat hidupnya; maka disitulah dosa bertumbuh dan berkembang. Hal inilah yang terjadi dengan keturunan Set (lihat point selanjutnya).

3.       Dosa merusak kemanusiaan kita

Ketika dosa dibiarkan dalam kehidupan manusia, dosa tidak selesai dengan sendirinya; inilah yang diperlihatkan dalam ayat 4; saat anak-anak Seth hidup dalam dosa; mereka tidak mau diatur oleh Tuhan maka lahirlah generasi yang jauh lebih jahat dari orang tuanya. Orang yang gagah perkasa yang dibicarakan dalam ayat 4, bukanlah sekedar orang-orang yang memiliki kemapuan fisik yang hebat; namun gagah perkasa yang dimaksudkan adalah orang-orang yang menggunakan kekuatan mereka untuk menindas orang lain.

Bayangkan apa jadinya jika orang-orang hebat yang memiliki kekuatan luar biasa kemudian tumbuh menjadi orang jahat dan bejat yang dalam ayat 5 dikatakan memiliki kecenderungan hati semata-mata berbuat jahat. Ingat dengan tokoh Hitler; seorang yang punya kekuatan, pengaruh, kuasa, karisma yang bergitu besar, namun hatinya jahat. Berapa banyak korban yang muncul dari kekejaman seorang bernama Hitler.

Inilah kekuatan dosa yang mampu menghancurkan manusia dari generasi kepada generasi, yang mampu merusak setiap sisi kemanusiaan kita. Namun dari manakah dosa itu bersumber? Alkitab berulang kali memperlihatkan kepada kita bahwa dosa bersumber dari penolak manusia kepada Tuhan; Kisah kejatuhan manusia pertama di Taman Eden memperlihatkan hal ini; hal yang sama kita lihat dengan keturunan Seth; dosa berawal dari penolakan anak-anak Seth dalam menjadikan kehendak Tuhan sebagai dasar dari kehidupan mereka termasuk dalamnya saat mereka memilih pasangan hidup.  Saat manusia hendak menjadikan dirinya sendiri sebagai Tuhan; menjadi seorang yang “self-center” disitulah awal mula kehancuran diri kita.

Lalu bagimanakah sikap Tuhan terhadap dosa?

1.       Hati Tuhan sakit dan kecewa saat melihat manusia hidup dalam dosa

Istilah “menyesalah Tuhan” (ay. 6) merupakan sebuah gaya Bahasa dalam bentuk personifikasi yang digunakan oleh penulis Alkitab untuk memperlihatkan kesedihan dan kekecewaan Tuhan saat melihat manusia hidup dalam dosa. Mengapa Tuhan begitu sedih dan kecewa saat melihat manusia hidup dalam dosa? (i) sebab manusia dicipta Tuhan bukan untuk hidup dalam dosa; (ii) kehidupan manusia dalam dosa hanya akan membawa manusia pada kehencuran dirinya sendiri.

2.       Walaupun Tuhan marah dengan keberdosaan manusia, namun Tuhan ingin manusia bertobat

Saat manusia hidup dalam dosa, Tuhan mengatakan bahwa ia tidak akan menyertai manusia, dan hidup manusia akan 120 tahun saja. 120 tahun yang disebutkan Tuhan bukan sekedar berbicara mengenai penurunan usia manusia, namun waktu yang diberikan Tuhan kepada manusia supaya bertobat. Saat Tuhan melihat manusia terus hidup dalam dosa, Tuhan bisa saja menghukum manusia saat itu juga, namun Tuhan masih memberikan kesempatan kepada manusia untuk hidup 120 tahun lagi sebelum penghukuman tiba. Tujuan Tuhan dalam hal ini adalah supaya manusia bertobat.

Lalu apa jadinya jika manusia tetap tidak mau bertobat? Maka Tuhan akan hukum manusia. Peristiwa Nuh menjadi bukti dan saksi bahwa Tuhan tidak membiarkann dirinya dipermainkan; Tuhan memang panjang sabar dan selalu memberikan kesempatan kepada kita untuk berubah; namun jangan pernah mempermainkan Tuhan; Ia akan hukum kita jika kita tidak sungguh-sungguh dan benar-benar menyelesaikan setiap dosa kita.

Apa yang harus kita lakukan?

1.       Kita harus berhenti berbuat dosa dan mulai membenahi diri kita.

kita harus mulai menjalani proses pembaharuan hidup. Proses pembaharuan hidup itu harus diawali dari aspek yang paling essential apakah itu? pembaharuan orientasi hidup. Jika akar dari segala keberdosaan kita adalah “self-center,” maka kita harus berubah menjadi seorang yang “God-center.” Mintalah setiap hari kekuatan dari Tuhan supaya kita mampu untuk hidup bagi Tuhan.

2.       Kita harus menyelesaikan dosa-dosa yang kita lakukan.

Jangan menganggap dosa bisa beres dengan sendirinya. Jika kita memiliki dosa-dosa yang sifatnya sangat personal; artinya hanya sedikit orang yang tahu atau bahkan tidak ada yang tahu; jangan biarkan hal ini; bereskan. Jika kita memiliki dosa-dosa relational, jangan dibiarkan, bereskan; sebelum hal tersebut membuahkan dosa lainnya.

3.       Kita harus sungguh-sungguh dalam menyelesaikan dosa kita.


Ada 3 aspek yang penting dalam proses penyelesaian dosa; apakah itu? Pertama adalah “pengakuan”; kita harus mengaku dipahadapan untuk untuk setiap dosa yang kita lakukan. Aspek kedua adalah “penyesalan”; kita mesti benar-benar menyesali dosa dan kesalahan kita. Aspek ketiga adalah “penyerahan”; kita tidak pernah bisa melawan kekuatan dosa dengan kekuatan sendiri, kita butuh Tuhan itulah sebabnya penyerahan diri merupakan bagian penting dalam proses penyelesaian dosa.

Tidak ada komentar: