Tampilkan postingan dengan label Refleksi Hidup Dari Surat Yakobus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi Hidup Dari Surat Yakobus. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Desember 2013

Renungan Di Akhir Tahun (Yakobus 5:19-20)

Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik,  ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa. Yakobus 5:19-20

Gereja adalah tempat dimana orang-orang berdosa boleh datang, mengalami pertobatan dan penerimaan. Tuhan Yesus memperlihatkan bahwa orang-orang berdosa adalah pribadi-pribadi yang sangat dikasihi Tuhan dan Yesus sendiri membuka dirinya dan hidupnya bagi mereka; sebaliknya Tuhan Yesus membenci orang-orang yang merasa diri benar dan menghina atau merendahkan orang lain. Sama seperti Kristus demikianlah gereja harus bersikap dan memandang orang-orang berdosa; mereka adalah tempat dimana orang-orang berdosa boleh datang untuk mendengarkan kebenaran injil sehingga mereka yang menyimpang hidupnya dari kebenaran dapat kembali kepada Tuhan.

Saat seorang berdosa bertobat, Yakobus mengatakan bahwa jiwanya akan diselamatkan Tuhan dan ia akan dosanya banyak ditutupi. Yang dimaksudkan Yakobus dengan istilah "menutupi banyak dosa" adalah mengampuni dosa-dosa mereka; jadi saat seorang berdosa berbalik kepada kebenaran (beriman kepada Kristus dan meninggalkan dosa), ia akan diselamatkan Tuhan dan semua hutang dosa mereka dihapuskan. Oleh karena dosa-dosa mereka sudah diampuni maka Tuhan tidak lagi mengingat-ingat akan kesalahan mereka di masa lalu; dan hal yang sama harus dilakukan gereja dengan orang-orang yang dulunya pernah jatuh dalam dosa termasuk dosa-dosa yang dipandang najis dan memalukan.

Ada banyak orang yang memiliki masa lalu yang buruk tidak dapat diterima dalam gereja; misalnya saja mantan seorang narapidana Kristen tidaklah dengan mudah dapat kembali diterima dalam sebuah gereja; demikian juga dengan seorang rohaniawan yang jatuh dalam dosa sexual, mereka biasanya bukan hanya tidak bisa melayani lagi bahkan ia harus mengalami "dikucilkan" oleh orang-orang dalam gereja. Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi dalam gereja sebab jika Tuhan sudah mengampuni, melupakan kesalahan orang tersebut dan menerima orang tersebut, maka gereja pun harus memiliki sikap yang sama dengan Tuhan. Gereja bukanlah kumpulan orang-orang saleh yang tidak bisa jatuh dalam dosa lagi; gereja adalah tempat dimana orang-orang berdosa boleh bertobat, mengalami pemulihan dan penerimaan kasih dalam Tuhan. Apakah hal ini terjadi di gereja kita? sering kali tidak bukan, itulah sebabnya kita perlu banyak mendoakan gereja kita supaya gereja kita memiliki sikap dan perasaan yang sama dengan Kristus dalam melihat orang-orang berdosa.

Jika ada diantara kita yang merasa bahwa kita adalah orang yang berdosa dan tidak pantas oleh karena kita melakukan dosa-dosa yang bagi kita sendiri memalukan, hari ini datanglah kepada Tuhan sebab Ia sangat mengasihi kita. Ia ingin supaya kita lepas dari perasaan bersalah karena dosa-dosa kita dan supaya kita menerima pengampunan dan pemulihan dari Tuhan. Di akhir tahun ini, hal apakah yang harus kita bawa dihadapan Tuhan? Salah satu hal yang terbaik yang kita bisa bawa kepada Tuhan adalah pertobatan kita; akui semua dosa dan pelanggaran dan kita berjanjilah bahwa di tahun mendatang kita akan hidup lebih setia lagi kepada Tuhan. 

Senin, 30 Desember 2013

Doa Elia (Yakobus 5:17-18)

Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.  Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya. 
Yakobus 5:17-18

Yakobus masih membicarakan mengenai doa orang benar; sebelumnya kita sudah membahas bahwa orang Kristen haruslah menunjukkan kasihnya kepada sesama melalui mendoakan mereka saat mereka sedang dalam penderitaan, dan Yakobus juga menekankan bahwa doa orang benar didengarkan oleh Tuhan. Kali ini Yakobus menggunakan contoh Elia dari Perjanjian Lama untuk memperlihatkan bahwa doa orang benar didengarkan Tuhan; hanya saja, kali ini Yakobus menekankan bahwa orang benar yang dimaksudkan adalah orang-orang yang hidup dalam ketaatan kepada Tuhan; seperti halnya Elia yang taat kepada Tuhan saat ia harus menghadapi kejahatan bangsa Israel dan kemudian berdoa dan Tuhan menjawab doanya, demikianlah dengan orang-orang Kristen yang dalam ketaatan kepada Tuhan, doanya akan dijawab Tuhan.

Yang menarik adalah Yakobus mengatakan bahwa Elia adalah "manusia biasa sama seperti kita." Yakobus ingin kita mengerti bahwa Elia bukanlah semacam manusia "super" yang berbeda dari kebanyakan manusia; ia adalah manusia dengan segala kelemahan sama seperti kita pada umumnya; bahkan Elia pun mengalami kesukaran dan ujian iman sama seperti orang-orang Kristen yang hidup di zaman Yakobus. Meskipun demikian, Elia memilih untuk tetap taat kepada Tuhan dan mengikuti pimpinan Tuhan dalam pelayanannya; hal inilah yang membuat Elia tahu apa yang harus dia doakan dan Tuhan mendengarkan apa yang dia minta.Untuk memperlihatkan kehadiran dan kemarahan Tuhan atas bangsa Israel yang telah meninggalkan Tuhan, Elia berdoa supaya Tuhan tidak menurunkan hujan untuk satu jangka waktu yang lama; hal ini tidak mudah sebab Elia pun pasti akan mengalami kesulitan hidup jika hal itu terjad; namun Elia tahu bahwa itulah yang Tuhan kehendaki dan saat Elia berdoa kepada Tuhan, maka Tuhan menjawab doanya. 

Seperti itulah doa orang benar dimana doa bukan menjadi kumpulan permintaan kita kepada Tuhan, namun sebuah ekspresi dari ketaatan kita kepada Tuhan. Doa yang seperti ini berlawanan dengan doa yang digambarkan dalam Yakobus 4:2-3 mengenai doa yang tidak dijawab Tuhan sebab apa yang kita minta dari Tuhan pada dasarnya adalah untuk memuaskan napsu diri kita. Apa yang Yakobus ajarkan juga mengingatkan kita bahwa ada kesatuan antara kesetiaan doa kita dengan kualitas dosa kita; kita bukan hanya perlu untuk belajar setia dalam berdoa, namun kita juga harus belajar untuk setia dalam mendoakan hal-hal yang benar atau hal-hal yang menjadi kehendak Allah. 

Apakah dengan demikian meminta sesuatu dalam doa itu salah? Tentu saja tidak demikian, meminta sesuatu dari Tuhan tidaklah salah; namun, menjadikan doa hanyalah sebagai sarana untuk mengajukan permintaan-permintaan kita, hal itulah yang salah. Dalam doa Bapa Kami, Tuhan Yesus memberikan contoh bahwa dalam doa ada berbagai hal yang bisa kita naikan, dan permintaan pribadi adalah salah satu saja dari hal-hal yang bisa kita naikan kepada Tuhan. Itulah sebabnya mulai hari ini, mari kita belajar untuk hidup taat kepada Tuhan dan berdoa dalam kehendak Tuhan; doa seperti ini akan menumbuhkan iman kita.

Minggu, 29 Desember 2013

Doa Bagi Orang Sakit (Yakobus 5:14-16)

Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.  Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.  Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Yakobus 5:14-16

Salah satu sikap yang harus ada dalam jemaat Tuhan adalah saling memperhatikan dan mengasihi. Itulah sebabnya jika ada jemaat yang sakit, maka para penatua sebagai orang yang dipanggil untuk menggembalakan haruslah mengunjungi orang tersebut untuk mendoakan dan memberikan bantuan bagi orang tersebut. Minyak yang dioleskan adalah salah satu bentuk perhatian dimana minyak tersebut berfungsi sebagai obat yang biasa digunakan oleh masyarakat era tersebut untuk mengobati orang sakit. 

Para penatua nampaknya bukan hanya berperan untuk mendoakan, namun ia juga berperan dalam membimbing jemaat tersebut; itulah sebabnya Yakobus mengaitkan kesembuhan dari jemaat yang sakit tersebut dengan saling mengaku dosa dan saling mendoakan, artinya penatua jemaat saat mengunjungi jemaat yang sakit tersebut menolong jemaat tersebut untuk menyelesaikan dosa-dosanya sehingga saat mereka datang kepada Tuhan dan berdoa, doa mereka kemudian didengarkan Tuhan dan orang tersebut disembuhkan dari sakitnya. Doa seperti inilah yang disebut sebagai doa orang benar atau doa yang lahir dari iman atau doa dari seseorang yang mau merendahkan dirinya untuk mengampuni dan mengasihi orang lain.

Dari apa yang Yakobus bicarakan kita belajar beberapa hal tentang doa; pertama, sebelum kita memanjatkan doa kita, hendaknya kita membereskan terlebih dahulu segala gamjalan-ganjalan yang ada dalam hati kita yakni rasa sakit hati, dendam dan kemarahan; ingat dengan apa yang Tuhan Yesus ajarkan dalam doa bapa kami, dimana kita diminta untuk mengampuni kesalahan orang lain seperti kita sudah diampuni oleh Tuhan. Kedua, doa dan perhatian adalah kesatuan; mendoakan seseorang yang sedang mengalami sakit atau penderitaan adalah hal yang baik, namun kita juga perlu untuk memperhatikan mereka secara nyata; salah satu bentuk perhatian kita adalah dengan mengunjungi orang tersebut atau membantu mereka dengan hal-hal lain yang bisa kita lakukan, misalnya bantuan uang jika orang tersebut adalah orang yang tidak mampu. Ketiga, doa haruslah dinaikan dengan keyakinan atau dengan iman; iman bukanlah pemaksaan kehendak kepada Tuhan, namun iman adalah penyerahan diri yang total kepada kehendak dan pimpinan Tuhan; keyakinan bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik, keyakinan bahwa Tuhan pasti mempunyai tujuan yang jelas dan indah saat ia mengijinkan seseorang mengalami penderitaan, keyakinan-keyakinan seperti itulah yang harus ada dalam diri kita saat kita berdoa ataupun mendoakan orang lain.


Sabtu, 28 Desember 2013

Respons Terhadap Penderitaan (Yakobus 5:13)

"Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi! " Yakobus 5:13

Yakobus sedang melayani jemaat yang mengalami penderitaan karena imannya; jika sebelumnya ia menasehatkan supaya saat mengalami penderitaan jemaat tidak boleh mengeluh/menggerutu serta saling menyalahkan, maka sekarang Yakobus menasehati supaya jemaat menjadi kehidupan doa yang disertai pujian serta ucapan syukur sebagai bagian dari respons mereka terhadap penderitaan. Doa adalah bentuk dari penyerahan diri seseorang kepada Tuhan, sedangkan nyanyian adalah bentuk ucapan syukur seorang kepada Tuhan. Saat seorang Kristen mengalami pergumulan dan kesukaran, maka respons yang harusnya muncul adalah berserah dalam doa, dan sebaliknya saat seorang Kristen melihat orang lain mengalami kesukaan, maka respons yang seharusnya muncul adalah ucapan syukur atas keberhasilan atau hal yang baik yang orang tersebut alami. Jadi, seorang Kristen tidak seharusnya iri hati dan marah saat orang lain hidupnya tidak semenderita kita.

Apa yang Yakobus ajarkan menyiratkan sebuah prinsip kebenaran mengenai pentingnya seorang Kristen memiliki sikap/respons yang benar terhadap kondisi diri sendiri dan orang lain. Ada kalanya kita berpikir bahwa jika saya menderita maka orang lain haruslah mengalami hal yang sama, akibatnya saat kita melihat orang lain tidak mengalami hal yang sama dengan kita, kita menjadi marah kepada Tuhan dan menganggap Tuhan itu tidak adil. Ini adalah respons yang salah; kita harus bersyukur untuk keberhasilan orang lain walaupun kita tidak berhasil seperti orang tersebut; mengapa demikian? apakah hal seperti ini tidak menunjukkan bahwa kita ini bodoh? Jika kita hidup dalam semangat kompetisi, kita pasti tidak akan senang dengan keadaan orang lain yang lebih baik dari kita; namun kita tidak hidup dalam semangat kompetisi namun dalam kasih, dan kasih membuat kita mampu bersukacita dan bersyukur dengan keberhasilan orang lain. Kita tidak akan dapat memiliki kualitas hidup yang seperti ini jika kita masih menjadi orang yang hidupnya berpusat pada dirinya sendiri alias menjadi orang yang "self center."

Apakah saat ini kita sedang mengalami kesukaran, tekanan ataupun penderitaan? jika kita sedang mengalami hal-hal tersebut, kita perlu datang kepada Tuhan atau berdoa kepadanya; namun, kita harus ingat bahwa doa bukanlah sarana yang kita dapat gunakan untuk memaksakan kehendak kita kepada Tuhan; doa adalah bentuk penyerahan diri kita kepada Tuhan, dengan kata lain, doa adalah bentuk iman kita kepada Tuhan. Saat kita berdoa dan menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, belajarlah untuk mempercayai Tuhan dan mulailah dengan mengucap syukur juga kepada Tuhan. Iman membuat kita melihat jauh kedepan melampoi apa yang sekarang ini ada di depan mata. Walaupun apa yang didepan mata kelihatannya tidak menjanjikan, namun percayalah bahwa Tuhan selalu mengerjakan hal yang baik dalam kehidupan kita; segala kesukaran, tekanan dan penderitaan diijinkan Tuhan untuk menghasilkan ketekunan dalam diri kita.

Jika saat ini kita tidak sedang dalam keadaan menderita atau dalam tekanan, maka bersyukurlah selalu pada Tuhan dan ingatlah orang-orang yang saat ini sedang dalam tekanan atau penderitaan. Apakah yang bisa kita lakukan? Ada banyak hal yang bisa kita lakukan, salah satunya adalah mendoakan mereka dan meminta kepada Tuhan supaya Ia memberikan kekuatan kepada orang-orang yang kita tahu sedang dalam kesukaran, tekanan dan penderitaan. Kita tidak akan mungkin bisa menjadi orang yang memperhatikan orang lain, jika mata kita hanya tertuju pada diri sendiri atau menjadi orang yang "self center." 

Kunci dari sikap yang benar adalah perubahan dari "self center" menjadi "God center." Kita akan memiliki sikap yang berubah baik terhadap kondisi diri sendiri maupun dalam melihat orang lain, jika Tuhan menjadi pusat hidup kita. Apakah Tuhan yang menjadi pusat hidup kita?

Jumat, 27 Desember 2013

Dibalik Sumpah (Yakobus 5:12)

Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman. Yakobus 5:12

Sebelumnya Yakobus membahas mengenai pentingnya seorang Kristen untuk bersabar dan tekun dalam menjalani penderitaan, dan disisi yang lain pentingnya orang Kristen untuk tidak bersungut-sungut dan saling menyalahkan. Dengan kata lain, Yakobus meminta supaya orang-orang Kristen menjaga lidahnya bahkan saat mereka dalam kesukaran. Kali ini Yakobus mengingatkan supaya orang-orang Kristen tetap menjadi seorang yang dapat dipercaya walaupun mereka sedang hidup dalam kesukaran. Nasehat supaya orang Kristen tidak bersumpah demi sorga ataupun bumi diberikan bukan untuk melarang orang-orang Kristen untuk melakukan sumpah saat mereka dilantik untuk satu jabatan tertentu, namun nasehat tersebut diberikan untuk menegaskan bahwa orang-orang Kristen hendaknya menjadi orang yang dapat dipercaya sehingga mereka tidak perlu untuk melakukan sumpah demi membuat orang lain mempercayai omongan mereka.

Perkataan Yakobus jelas menggemakan apa yang Tuhan Yesus ajarkan bahwa jawaban atau perkataan seseorang hendaknya bisa dipercayai (lih Mat. 5:37). Tuhan Yesus mengajarkan hal yang sama bahwa kita tidak sepatutnya bersumpah demi apapun sebab sumpah pada dasarnya mempertaruhkan sesuatu sebagai jaminan atas kebenaran omongan kita, mengapa demikian? sebab manusia pada dasarnya tidak memiliki segala sesuatu, segala yang manusia miliki adalah milik Tuhan. Itulah sebabnya kita tidak dapat bersumpah demi sorga sebab sorga bukanlah milik kita; demikian juga demi kepala kita sebab kepala kitapun bukanlah milik kita.

Tuntutan sumpah muncul oleh karena kualiitas dan integritas manusia mengalami kemunduran atau kemerosotan; jika masyarakat atau komunitas hidup dapat kondisi dipercayai, maka sumpah tidaklah diperlukan. Itulah sebabnya dalam kondisi masyarakat/komunitas yang bokbrok, tuntutan sumpah tidak akan menolong seban sumpah yang diucapkan akan dengan mudah dilanggar. Itulah sebabnya yang dibutuhkan bukanlah tuntutan sumpah, namun perbaikan kualitas kemanusiaan kita. Itulah yang menyebabkan baik Yesus maupun Yakobus menegaskan bahwa orang-orang Kristen perlu menjadi teladan dalam masyarakat bahwa mereka adalah orang-orang yang dapat dipercayai; perkataan orang-orang Kristen adalah ya dan tidak, artinya tegas dengan apa yang benar dan tidak. 

Bohong adalah salah satu dosa yang paling banyak dilakukan oleh manusia sehingga dosa tersebut dianggap biasa. Meskipun demikian Alkitab menegaskan bahwa bohong akan membawa manusia pada penghukuman dan bohong merupakan dosa yang serius. Itulah sebabnya orang Kristen perlu untuk mulai belajar berkata jujur. Namun dari mana mulainya? Kita harus mengerti bahwa pembaharuan perkataan datang dari pembaharuan pikiran; apa yang keluar dari mulut kita adalah cerminan dari apa yang kita masukkan dalam pikiran kita. Jadi, kualitas omongan kita berbanding lurus dengan kualitas dari isi pikiran kita; pertanyaannya adalah apa yang paling banyak kita masukkan dalam pikiran kita? Jika kita terus menerus memasukkan kebenaran Firman Tuhan dalam pikiran kita, maka cepat atau lambat kebenaran Firman Tuhan itu akan mempengaruhi mulut kita juga.

Kamis, 26 Desember 2013

Kesabaran dan Ketekunan saat dalam Tekanan (Yakobus 5:10-11)

"Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.  Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan." Yakobus 5:10-11

Jika sebelumnya Yakobus menasehatkan supaya jemaat Kristen yang mengalami penderitaan supaya bersabar, maka dalam ayat 10-11, Yakobus meminta jemaat untuk belajar dari para nabi. Para nabi adalah orang-orang yang menerima panggilan yang penting dimana mereka menjadi juru bicaranya Tuhan; meskipun demikian mereka tetap harus mengalami kesukaran bahkan penderitaan. Saat mereka mengalami kesukaran dan penderitaan, mereka telah memberikan teladan yang indah yakni mereka bertekun dan bersabar dalam menjalani kesukaran hidup mereka. Para nabi menolak untuk menyerah saat berhadapan dengan tekanan-tekanan hidup mereka; itulah yang menyebabkan mereka disebut berbahagia.

Salah satu contoh yang bisa kita lihat adalah Ayub, dimana ia mengalami penderitaan yang luar biasa. Mungkin jarang ada orang yang mengalami penderitaan seperti Ayub, dimana ia kehilangan segala sesuatu termasuk istri dan kekuatan tubuhnya; namun, saat ia dalam keadaan yang demikian, Ayub tidak menyerah ataupun mempersalahkan Tuhan; dan pada akhirnya Ayub dipulihkan oleh Tuhan. Kita harus tahu bahwa Tuhan itu maha penyayang dan penuh belas kasihan; Ia tidak mungkin melakukan sesuatu dengan tujuan buruk misalnya saja untuk menghancurkan hidup kita. Itulah sebabnya, jika Tuhan mengijinkan kita untuk mengalami kesukaran dan penderitaan saat kita mengikut Tuhan, itu semua mesti ada tujuannya dan tujuannya pasti adalah untuk kebaikan kita juga.

Untuk dapat menerima bahwa apa yang Tuhan ijinkan selalu untuk kebaikan dibutuhkan yang namanya iman. Iman membuat kita berani mempercayakan hidup kita pada Tuhan; iman juga membuat kita melihat melampoi apa yang ada didepan mata. Sama seperti jika kita hendak melakukan sebuah perjalanan dengan seorang sopir dengan mengunakan sebuah jalur yang kita tidak pernah lewati; saat kita melewati jalan-jalan yang asing dan tidak meyakinkan, kita bisa menjadi ragu dengan sopir yang membawa kita; namun jika kita percaya dengan sopir tersebut, walaupun jalan yang dilewati itu sepertinya tidak meyakinkan, tetapi kita tetap menjalaninya sebab kita percaya dengan sopir kita. Seperti itulah iman; iman membuat kita mempercayai Tuhan melampoi apa yang kita bisa lihat dari mata kita.

Iman seperti itu adalah pemberiaan Tuhan; manuisa tidak bisa menghasilkan iman dari dirinya sendiri. Itulah sebabnya Tuhan mengaruniakan kepada kita kelahiran baru supaya kita dapat memiliki iman yang sejati. Dan iman yang sejati akan bertumbuh melalui pendengaran akan firman Tuhan dan pengalaman hidup setiap hari. Pengalaman hidup saat menghadapi kesukaran, tekanan dan penderitaan merupakan sebuah latihan rohani yang membuat iman kita bertumbuh. Itulah sebabnya saat kita alami kesukaran, jangan buru-buru mengatakan bahwa Tuhan tidak mengasihi saya, sebab Tuhan pasti akan menguji iman kita dan kesulitan serta kesukaran adalah sarananya.

Selasa, 24 Desember 2013

Kunci Bahagia Saat Menderita (Yakobus 5:9)

"Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu." Yakobus 5:9

Saat seseorang dalam penderitaan, kita dapat menjadi tidak puas dengan keadaan kita, akibatnya adalah kita kemudian bersungut-sungut. Yakobus memperingatkan bahwa kita perlu bersabar dalam segala penderitaan yang kita alami; dan ciri dari orang yang seperti itu (mampu bersabar) adalah ia tidak bersungut-sungut dengan apa yang dia rasakan. Kunci dari kemampuan seseorang untuk tidak bersungut-sungut dalam keadaan sulit adalah "belajar memuaskan diri dengan apa yang ada" dan "belajar bersyukur;" hal ini akan menolong kita untuk tetap bisa melihat secara postif penderitaan yang kita sedang alami sebagai seorang Kristen.

Yakobus juga mengingatkan kita bahwa saat kita sedang dalam kesukaran, hendaklah kita tidak saling mempersalahkan; artinya hendaklah kita tidak bertengkar atau saling menghancurkan seorang dengan yang lain. Saat kita dalam keadaan menderita, kita dapat cenderung melihat hanya kepada diri sendiri (menjadi seorang yang self-center), dan saat hal tersebut terjadi, kita akan cenderung untuk menyalahkan orang lain dengan apa yang kita alami, dan kita pun cenderung untuk menjadi sangat sensitif dengan diri sendiri dan tidak mampu berempati dengan penderitaan orang lain. Dalam keadaan seperti ini, maka kita bisa mengalami apa yang Yakobus peringatkan yakni "saling mempersalahkan." Kunci supaya kita tidak jatuh dalam keadaan seperti itu saat kita sedang dalam masa-masa kesukaran adalah belajar memuaskan diri dengan apa yang kita alami dan bersyukur dalam segala keadaan; kunci yang sama dibutuhkan baik untuk menjadi orang yang tidak bersungut-sungut maupun saling menjatuhkan seorang dengan yang lain.

Persoalannya adalah bagaimana kita dapat menjadi seorang Kristen yang bisa mencukupkan diri dan bersyukur dalam segala hal? sikap dan karakter yang seperti itu diperoleh hanya jika kita adalah orang yang sudah mengalami kelahiran baru; dalam setiap orang yang lahir baru dan percaya kepada Kristus; Tuhan memberikan kepada kita "damai sejahtra"; dampa sejahtera dari Tuhan ini tidak bergantung pada kondisi ekternal, namun akan hadir secara internal; dampai sejahtra dari Tuhan tidak bergantung dari keadaan. Meskipun demikian, seorang Kristen juga perlu membangun hubungan yang benar dengan Tuhan; hubungan yang benar dengan Tuhan akan membawa seseorang untuk mengalami pertumbuhan dalam damai sejahtra. Yang ketiga, kita perlu belajar untuk melatih diri kita (memiliki disiplin rohani) untuk selalu bersyukur dalam segala hal; ini tidak mudah, namun jika kita melakukannya hidup kita akan bertumbuh dalam damai sejahtera.

Selamat mencoba dan Selamat Natal

Senin, 23 Desember 2013

Pengharapan Orang Percaya (Yakobus 5:7-8)

"Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.  Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!" Yakobus 5:7-8

Jika sebelumnya Yakobus membicarakan mengenai kejahatan dari orang-orang kaya yang hidupnya tidak mempermuliakan Tuhan, ia kali ini kembali berbicara kepada orang-orang Kristen sejati yang hidupnya sering kali jadi korban dari ketidakadilan dan ketidakbenaran sehingga ia mengalami penderitaan. Dalam kondisi seperti ini orang Kristen sejati dinasehati oleh Yakobus supaya mereka bersabar.

Apa yang Yakobus ingin sampaikan sebenarnya? untuk memahami pesan Yakobus, kita harus memperhatikan gambaran yang Yakobus gunakan yakni mengenai petani yang bersabar dalam menantikan turunnya hujan; gambaran ini digunakan dalam PL untuk menggambarkan pengharapan yang dimiliki oleh umat Tuhan dalam menantikan pertolongan Tuhan. Yakobus sepertinya menggunakan gambaran tersebut untuk mendorong orang Kristen melihat kepada Yesus saat mereka dalam masa-masa penderitaan. Di lihat dari konteks ini, arti dari perkataan "kedatangan Tuhan sudah dekat" menunjuk pada keyakinan bahwa Tuhan tidak akan tinggal diam dengan penderitaan umat-Nya, Ia akan segera datang untuk menolong mereka.

Saat umat Tuhan mengalami penderitaan kita harus bersabar dan menguatkan hati kita, namun kita harus memahami bahwa dasar dari kesabaran kita terletak pada adanya penyerahan diri dan kepercayaan kita kepada Tuhan bahwa ia tidak akan membiarkan kita; Tuhan akan intervensi dengan ketidakadilan yang dialami dan diterima umat-Nya. Dasar inilah yang membuat seorang Kristen tidak perlu putus asa dengan penderitaannya saat ia diperlakukan secara tidak adil bahkan kejam, dan dasar inilah juga yang membuat seorang Kristen tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan sebab Tuhanlah yang akan menjadi hakim dalam kehidupan umat Tuhan.

Martin Luther King adalah seorang pejuang kemanusiaan yang harus membayar perjuangannya dengan nyawanya. Salah satu keponakan dari Martin Luther King, bermama Alveda King, pernah merasa bahwa ia sangat membenci pembunuhnya yang adalah orang kulit putih. Meskipun demikian, baik ayah maupun kakeknya mengajarkan Alveda untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, namun membalas kejahatan dengan kasih dan doa, itulah panggilan seorang Kristen. Alveda belajar melakukan hal tersebut, dan saat dia ditanya mengenai perasaannya terhadap orang kulit putih, ia berkata bahwa ia mengasihi mereka walaupun orang kulit hitam pernah mengalami masa-masa dimana mereka diperlakukan secara tidak adil oleh orang kulit putih. Alveda adalah contoh dari seorang Kristen yang menaruh pengharapannya kepada Tuhan dan menyerahkan penghakiman hanya kepada Tuhan.

Kita dapat mengalami ketidakadilan dalam kehidupan kita yang disebabkan oleh karena iman kita. Saat kita mengalami hal tersebut, kita tidak perlu memelihara kebenciaan dan dendam dalam hati kita; tugas kita adalah bergantung berharap kepada Tuhan dan menyerahkan penghakiman kepada Tuhan; belajarlah untuk mendoakan dan mengasihi orang-orang yang pernah berbuat tidak adil kepada kita dan menyakiti kita; saaat kita melakukan hal-hal tersebut, maka hidup kita akan dipenuhi dengan "shalom."

Minggu, 22 Desember 2013

Problem Kekayaan (Yakobus 5:4-6)

Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu. Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan.  Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu. Yakobus 5:4-6

Bagian diatas memperlihatkan beberapa kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang kaya yang hidupnya tidak mempermuliakan Tuhan. Yakobus mengatakan bahwa mereka telah menahan upah dari pengerja ladang mereka; tidak jelas apa yang menjadi alasan dari tindakan orang kaya tersebut, namun bisa saja orang kaya tersebut menahan upah orang miskin/pengerjanya demi keuntungan dirinya sendiri. Di sisi yang lain orang kaya yang dibicarakan Yakobus juga hidup foya-foya tanpa ada keprihatinan terhadap sesama mereka yang miskin; sikap seperti ini mengingatkan kita pada kisah tentang Lazarus dan orang kaya dimana orang kaya dalam perumpamaan tersebut digambarkan tidak memiliki kepeduliaan sedikitpun kepada Lazarus; anjing yang ada di rumah orang kaya tersebut (yang menjilati luka Lazaruus) lebih baik dari pada si orang kaya yang tidak ada kepekaan sedikitpun pada orang miskin. Orang kaya yang dibicarakan Yakobus juga menindas orang-orang lemah dengan menyogok hakik atau penegak hukum sehingga orang-orang yang lemah tersebut harus berhadapan dengan konsekuensi hukum bahkan mati oleh karena keserakahan si kaya.

Contoh-contoh yang diberikan oleh Yakobus menjadi peringatan bagi kita bahwa kekayaan dapat menjerumuskan kita menjadi orang yang kejam, tidak peka terhadap orang lain bahkan menindas orang lain. Tentu tidak semua orang kaya demikian; ada banyak orang kaya yang hidupnya mempermuliakan Tuhan, dan kita harus menghormati dan menghargai orang-orang yang demikian. Di sisi yang lain, tidak semua orang miskin dan lemah juga baik, rendah hati atau peka terhadap pergumulan orang lain. Pada kenyataannya ada banyak orang miskin yang egois, mementingkan diri sendiri dan menjadi pelaku banyak kejahatan.

Problem utamanya bukan terletak pada kekayaan atau kemiskinan yang ada dalam kehidupan seseorang. Problem utamannya ada pada orietasi diri dan hidup; semakin manusia berorientasi pada dirinya sendiri alias menjadi "self center," ia akan menjadi orang yang makin tidak peduli dengan orang lain dan terus memikirkan kesejahteraan diri sendiri. Jadi, yang harus kita rubah adalah orintasi diri dan hidup kita, barulah sikap kita terhadap Tuhan dan sesama akan berubah.

Persoalannya adalah orientasi diri dan hidup tidak bisa berubah dengan sendirinya; manusia dilahirkan dalam keberdosaan, dan dalam keberdosaannya, kita cenderung untuk membangun kehidupan kita jauh dari ajaran Tuhan dan mengutamakan kesejahteraan pribadi. Itulah yang membuat Tuhan Yesus berbicara berulang-ulang bahwa mengikut Yesus melibatnya yang namanya "menyangkali diri," sebuah komitmen untuk menempatkan Tuhan dan kehendaknya diatas segala-galanya termasuk kepentingan diri kita sendiri. Kita tidak bisa mengikut Tuhan jika kita masih "self center." Mintalah Tuhan melahir barukan kita supaya kita tidak dikuasai oleh dosa dan diperbudak oleh daging; jika kita sudah lahir baru, mintalah kepada Tuhan supaya kita diberikan kekuatan untuk melatih diri kita (melakukan disiplin rohani) supaya perilaku dan karakter kita berorientasi pada Tuhan.

Sabtu, 21 Desember 2013

Dikuasai Harta (Yakobus 5:2-3)

Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!  Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir. Yakobus 5:2-3

Bagian ini adalah kelanjutan dari peringatan Yakobus kepada orang-orang kaya yang hidupnya tidak mempermuliakan Tuhan dan tidak kaya dengan kemurahan; Yakobus mengingatkan mereka bahwa kekayaan mereka (apa yang mereka miliki) akan menjadi rusak dan hancur bahkan sejak mereka masih ada dalam dunia ini (perhatikan istilah "emas dan perakmu yang sudah berkarat: artinya rusak/tidak berharga); di sisi yang lain, perbuatan mereka yang tidak murah hati sesungguhnya akan membawa mereka kepada konsekuensi penghukuman (perhatikan istilah "akan memakan dagingmu seperti api). Dengan kata lain, hidup orang kaya yang tidak kaya dalam Tuhan akan berakhir dengan penderitaan baik saat ia ada dalam dunia ini (berakhir dengan kekosongan/kehanpaan hidup) maupun saat ia harus berhadapan dengan kehidupan di masa yang akan datang setelah penghakiman (berakhir dengan penghukuman).

Apa yang manusia lakukan dengan apa yang dia miliki akan berdampak baik di masa sekarang maupun mendatang. Hal ini seharusnya menyadarkan kita bahwa setiap pilihan kita khususnya dalam menggunakan apa yang Tuhan percayakan pada kita (yang kita sebut sebagau harta milik) akan membawa kita pada konsekuensi. Jika hidup kita dalam dunia ini dikuasai oleh keinginan untuk menjadi kaya dan cinta akan uang, akibatnya kita menjadi seorang yang kikir, perhitungan dan tidak mau berkorban bagi yang lain. Sikap yang seperti ini mungkin tetap bisa membuat seseorang jadi kaya, namun tidak akan pernah membuat orang tersebut dapat menikmati kekayaannya. Di sisi yang lain lagi, sikap orang tersebut akan membawa dia pada hari penghakiman dimana ia harus mempertanggung jawabkan semua kepercayaan yang Tuhan berikan kepadanya termasuk dengan harta bendanya.

Kunci pertama untuk dapat bersikap benar terhadap harta milik adalah memandangnya sebagai milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Jika kita menganggap bahwa semua yang kita miliki pada dasarnya adalah milik Tuhan, dan kita hanya diminta untuk mengelolanya, maka kita akan menjadi orang yang tidak akan pernah takut kekurangan atau kehilangan saat kita harus berbagi harta milik kita dengan orang lain. Tahukah kita bahwa kebahagiaan hidup bukan hanya kita rasakan saat kita memiliki apa yang kita inginkan, namun justru saat kita membagi apa yang kita miliki dengan orang lain.

Kunci kedua untuk dapat bersikap benar terhadap harta miliki adalah jangan sampai kita dikuasai olehnya. Kita harus menyadari bahwa baik uang, harta dan segala hal yang ada di dunia ini mempunyai daya tarik yang luar biasa, bahkan dapat membuat kita menjadi hambanya. Itulah sebabnya Alkitab berulang-ulang mengingatkan kita bahaya dari uang dan harta benda; Tuhan Yesus menegaskan kita tidak dapat melayani Allah dan mamon; Paulus juga berkata cinta akan uang adalah akar segala kejahatan. Jadi jelas, uang dan harta memiliki kuasa untuk memperbudak kita. Itulah sebabnya penting bagi kita untuk mengingatkan diri kita sendiri setiap hari bahwa kita harus menguasai diri kita supaya tidak dikusasi oleh keinginan untuk kaya dan cinta akan uang; biarlah materi menjadi pelayanan dalam hidup kita dan bukan tuan yang menguasai kita.

Jumat, 20 Desember 2013

Bertobatlah Orang Kaya (Yakobus 5:1)

"Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang menimpa kamu." Yakobus 5:1

Yakobus kembali mengingatkan orang-orang kaya yang ada dalam jemaat Kristen yang karakternya tidak rendah hati dan sikapnya yang sering kali merendahkan orang lain bahkan sering kali menganggap bahwa mereka bisa menjalani hidup tanpa Tuhan. Yakobus meminta supaya mereka menangis dan meratap; tentu yang Yakobus maksudkan dengan kedua hal tersebut adalah supaya mereka bertobat. Mengapa mereka perlu bertobat? Alasannya adalah sebab ada sengsara yang akan menimpa mereka; tentu yang Yakobus maksudkan adalah ada penghukuman dari Tuhan yang akan menimpa mereka.

Banyak orang ingin menjadi kaya, namun ternyata menjadi kaya bisa membuat kita sombong, merendahkan orang lain bahkan meminggirkan Tuhan dalam hidup kita. Tentu memiliki banyak hal dalam hidup kita tidak salah, yang salah adalah jika segala yang kita miliki merusak karakter hidup kita dan membuat kita menjadi orang yang sombong yang tidak menghargai baik sesama maupun kehadiran Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus pernah berkata "sungguh sulit bagi seorang kaya untuk masuk kerajaan Allah."

Itulah sebabnya jika kita sekarang dalam keadaan yang biasa-biasa saja, maksudnya tidak kaya raya, maka kita tidak petlu terus menerus mengorientasikan hidup untuk mencari kekayaan, sebab hal tersebut bukan segala-galanya; lebih baik kita mencari Tuhan dan hidup dalam keserhanaan dan tetap percayakan hidup kita setiap harinya kepada Tuhan. Di sisi yang lain, jika kita sekarang diberkati Tuhan dan menjadi seorang yang kaya raya, maka kita harus jadi orang kaya yang rendah hati dan kaya dengan kemurahan. Jangan sampai kekayaan membuat kita sombong dan merendahkan orang lain, dan lebih banyaklah berbuat baik dan jangan sampai hidup kita diikat dengan harta; dengan kata lain, jadilah orang kaya yang mempermuliakan Tuhan.

Menjadi kaya atau tidak kaya bukanlah hal utama bagi seorang Kristen sebab kehidupan seorang kristen tidak bergantung pada apa yang dia miliki, namun dari berkat Tuhan atas hidup dia; yang Tuhan lihat bukan seberapa banyak harta milik yang kita miliki, namun yang Tuhan lihat adalah seberapa bergantungnya hidup kita kepada Tuhan; orang-orang yang walaupun hidupnya miskin namun ia bergantung kepada Tuhan dengan segenap hati, maka Alkitab berkata "berbahagialah mereka sebab merekalah yang empunya kerajaan Allah."

Kamis, 19 Desember 2013

Jangan Diabaikan (Yakobus 4:17)

"Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa." Yakobus 4:17

Yakobus sedang membicarakan mengenai integrasi antara perbuatan/ketaatan dengan pengetahuan yang seorang Kristen miliki. Sebelumnya, Yakobus membahas mengenai pentingnya kerendahan hati yang membawa seseorang untuk memiliki sikap yang benar baik terhadap Tuhan maupun terhadap sesama, namun semua yang Yakobus ajarkan akan menjadi tidak bermanfaat jika pembacanya tidak melakukan apa yang mereka ketahui sebagai kebenaran. itulah sebabnya, Yakobus menegaskan jika pembacanya tahu apa yang baik dan benar yang harus dilakukan, namun ia tidak melakukannya maka ia telah berdosa; orang tersebut berdosa sebab ia tidak mentaati kebenaran yang ditentukan dan ditetapkan Tuhan.

Jika kita memperhatikan perilaku dan pemikiran manusia, maka kita akan menemukan adanya dua ekstrem yang salah. Ekstrem pertama memandang bahwa manusia tidak perlu banyak belajar ini dan itu, yang penting adalah ia mampu mempraktekan hal yang benar. Di sisi yang lainnya ada juga orang yang menganggap bahwa seseorang yang ajarannya baik namun hidupnya buruk lebih baik dibandingkan dengan orang yang hidupnya baik namun ajarannya buruk. Ekstrem yang pertama dikenal dengan sebutan pragmatisme sedangkan sebutan untuk ekstrem yang kedua adalah kemunafikan. 

Orang Kristen sudah pasti harus mengetahui hal-hal yang benar sebab pengetahuan akan kebenaran adalah sumber motivasi dari perbuatan benar seseorang. Kita tetap akan melakukan hal yang salah, jika hal yang baik yang kita lakukan didasarkan dengan motivasi yang salah. Di sisi yang lain, orang Kristen tidak cukup sekedar mengetahui hal yang benar namun ia harus menghidupinya. Inilah yang disebut sebagai integritas hidup seorang Kristen.

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa orang yang memiliki integritas hidup (melakukan apa yang dia ketahui dengan kebenaran) akan menjadi seorang yang kokoh seperti rumah yang dibangun diatas batu karang. Dalam perumpamaan yang lainnya lagi, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa orang yang memiliki integritas hidup (melakukan apa yang dia dengar dari Firman Tuhan) akan menjadi seperti tanah yang subur yang menerima benih yang baik dan menghasilkan buah-buah yang berlipat ganda. Lihat, itulah pentingnya mentaati kebenaran yang kita ketahui dan pelajari.

Itulah sebabnya, penting bagi kita bahwa setiap kali kita bersaat teduh, kita selalu bertanya apa yang hari ini saya harus lakukan untuk mentaati firman Tuhan yang hari ini saya pelajari? Dengan selalu mempraktekan apa yang kita pelajari, maka firman Tuhan menjadi satu dengan hidup kita. Selamat Berkarya bagi Tuhan.

Rabu, 18 Desember 2013

Kesombongan Manusia (Yakobus 4:15-16)

"Sebenarnya kamu harus berkata: 'jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.' Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah."

Persoalan utama dari membuat perencanaan tanpa melibatkan Tuhan adalah hal tersebut merupakan kesombongan bahkan merupakan kecongkakan. Manusia pada dasarnya adalah mahluk yang lemah dan tidak mempunyai kuasa baik untuk menentukan masa depannya sendiri maupun mempertahankan existensi dirinya. Jadi, apa yang Yakobus katakan tepat, kita menjadi terlalu sombong jika kita menganggap bahwa kita bisa menjalani hidup tanpa Tuhan.

Saat ini kekristenan berhadapan baik dengan pengaruh atheisme maupun sekularisme. Atheisme mempengaruhi masyarakat untuk menolak adanya Tuhan maupun keyakinan mengenai kehadiran Tuhan. Di sisi yang lain, sekularisme mempengaruhi masyarakat untuk menjauhkan Tuhan dalam kehidupan manusia. Orang-orang Kristen mungkin tidak banyak terpengaruh dengan paham atheisme, namun ada banyak orang Kristen dipengaruhi oleh sekularisme.

Sebagai contoh, saya pernah melihat ada seorang Kristen berkata bahwa ajaran Alkitab itu untuk dipraktekkan dalam gereja, namun bukan dalam dunia kerja; orang tersebut mengganggap manusia tidak bisa bertahan dalam usahanya jika mereka harus bisnis dengan prinsip Alkitab, misalnya saja larangan untuk tidak berbohong. Pemikiran dari orang tersebut jelas dipengaruhi oleh sekularisme sebab ia memisahkan area kehidupannya menjadi dua, yakni dunia gereja dan dunia nyata, dalam dunia nyata kita tidak bisa hidup dengan cara-cara Tuhan.

Manusia harus hidup untuk Tuhan, itulah sebabnya orientasi dan tujuan hidupnya harus ditujukan bagi Tuhan. Itu berarti saat orang tersebut menyusun rencana hidup dan menjalaninya, maka Tuhan dan kehendak-Nya harus menjadi bagian utama dari pergumulannya. Manusia yang mengabaikan Tuhan akan berjalan dalam jalan yang salah, dan ia akan membawa hidupnya sendiri kepada kehancuran. Kita harus belajar melibatkan Tuhan setiap hari bahkan setiap waktu, itulah pentingnya doa; sebuah sarana untuk menyrahkan diri dan hidup kita pada Tuhan.

Selasa, 17 Desember 2013

Rencana Kita dan Rencana Tuhan (Yakobus 4:13-14)

"Jadi, sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan disana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung", sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap." Yakobus 4:13-14

Jika kita membaca sekilas nasehat Yakobus di atas, kita bisa mengira bahwa Yakobus menganggap bahwa perencanaan itu adalah sesuatu yang tidak baik. Namun kesimpulan tersebut salah sebab Yakobus sebenarnya sedang membicarakan sebuah perencanaan yang tidak melibatkan Tuhan dalamnya; dengan kata lain perencanaan yang dikutip Yakobus adalah perencanaan dari seorang yang sombong yang merasa tidak memerlukan atau tidak perlu melibatkan Tuhan dalam hidupnya.

Yakobus menegaskan bahwa manusia itu tidak tahu dan tidak bisa memastikan hari esoknya; artinya sebaik-baiknya sebuah perencanaan dibuat, kita tidak bisa memastikan bahwa segala sesuatu akan berjalan seperti yang kita rencanakan. Apa yang Yakobus ajarkan sebenarnya menggemakan apa yang penulis kita Amsal ajarkan mengenai perencanaan bahwa manusia hanya dapat membuat rencana, namun Tuhan lah yang menjadi penentu dari segala sesuatu. Oleh karena kita tidak menguasai hari esok, maka penting sekali bagi kita untuk menyerahkan hidup dan perencanaan kita kepada Tuhan. 

Di sisi yang lainnya lagi, Yakobus mengingatkan pembacanya bahwa hidup manusia itu seperti uap yang sebentar saja kelihatan kemudian lenyap. Gagasan yang dibicarakan Yakobus nampaknya memiliki beberapa kemungkinan arti. Yakobus mungkin sedang membicarakan mengenai hidup manusia yang pendek atau ia mungkin juga sedang membicarakan mengenai hidup manusia yang rapuh; di lihat dari konteks dekatnya, sepertinya gagasan hidup manusia yang rapuh lebih bisa diterima. Yakobus memandang karena hidup manusia itu rapuh (artinya manusia itu lemah) dimana manusia tidak berkuasa atas hidupnya dan masa depannya, maka sangatlah penting bagi kita untuk melibatkan Tuhan dalam hidup dan perencanaan kita.

Dalam kehidupan saya, ada banyak perencanaan yang berhasil, tertunda bahkan tidak jadi. Ada kalanya saya mengalami bahwa perencanaan yang sudah hampir berhasil (90 persen) jadi ternyata kemudian tidak terjadi; sebaliknya ada kalanya perencanaan yang dianggap sudah tidak mungkin terjadi, malag justru tercapai. Itulah hidup, kita tidak bisa memastikan apa yang terjadi pada hari esok; itulah sebabnya adalah baik jika kita memulai perencanaan kita dengan melibatkan Tuhan, dan bukan melibatkan Tuhan setelah perencanaan kita dibuat. Salah satu hal utama yang harus menjadi pertimbangan kita dalam membuat perencanaan adalah "apakah Tuhan memang menginginkan kita melakukan apa yang akan kita perbuat/sedang rancangkan?"

Kita sekarang berada di penghujung tahun dan kita biasa membuat perencanaan untuk tahun mendatang; mari kita memulai perencanaan hidup kita dari mengenal kehendak Tuhan; dari pada kita memulai dengan pertanyaan "apa yang saya ingin lakukan tahun depan," lebih baik kita memulai dengan pertanyaan "apa yang Tuhan ingin saya lakukan di tahun mendatang." Selamat Berencana.

Senin, 09 Desember 2013

Bahaya Menghakimi Orang Lain (Yakobus 4:11-12)

"Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; jika engkau menghakimi hukum maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. Hanya ada satu pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa untuk menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?

Yakobus mengingatkan pembacanya supaya mereka tidak menghakimi sesama manusia. Apakah yang dimakduskan dengan menghakimi oleh Yakobus? Istilah menghakimi berarti menjadi seperti seorang hakim dalam menilai seseorang sebagai orang benar dan salah; Yakobus menegaskan yang berhak untuk menilai dan menghukum seseorang adakah Tuhan; manusia tidak berhak melakukan apa yang menjadi kewenangan Tuhan. Itulah sebabnya jika seseorang menghakimi orang lain, ia menempatkan dirinya diatas hukum Tuhan dan menempatkan dirinya sebagai Tuhan. Di sisi yang lain penilaian yang salah juga pada dasarnya merupakan sebuah fitnah, itulah sebabnya Yakobus mengaitkan peringatan jangan saling memfitnah dengan perintah jangan menghakimi.

Orang yang suka menghakimi orang lain pada dasarnya adalah orang yang merasa dirinya lebih benar dari orang lain. Sikap ini merupakan sebuah kesombongan yang dibenci Tuhan (bdk. Ay. 6). Sikap merasa diri benar juga membuat seseorang tidak mampu melihat kelemahan diri sendiri. Itulah sebabnya kerendahan hati mutlak dibutuhkan, bukan saja untuk membangun hubungan yang benar dengan Tuhan, namun juga untuk membangun hubungan yang benar dengan sesama.

Sikap tidak menghakimi orang lain disisi yang lain merupakan bentuk dari penyerahan diri seseorang kepada Tuhan. Dari pada kita terus menerus dikuasai kebenciaan karena melihat orang-orang yang melakukan hal-hal yang jahat baik kepada kita ataupun kepada orang lain, maka lebih baik jika kita menyerahkan penghakiman kepada Tuhan sendiri. Biarlah Tuhan yang akan menegakkan keadilan dan kebenaran.

Kita perlu berhati-hati dan jangan pernah menghakimi orang lain sebab penilaian kita sangatlah terbatas dan bisa salah. Kira harus memperhitungkan bahwa kesalahan kita dalam menilai seseorang bisa merusak hidup orang lain dan masa depannya. Jangan lupa setiap perkataan salah yang keluar dari mulut kita tidak pernah bisa ditarik lagi; itulah sebabnya sekali kita salah menilai orang lain dan hal tersebut membuat orang lain turut salah menilai orang tersebut, maka sulit sekali bagi kita untuk memperbaiki danpak kerusakan yang orang lain alami gara-gara kita salah berbicara/menilai orang lain. Sebelum hal tersebut terjadi dalam diri kita, kita sebaiknya melatih diri kita sendiri supaya tidak gampang menilai dan menghakimi orang lain.


Sabtu, 07 Desember 2013

Penyesalan Dosa Yang Sungguh (Yakobus 4:9-10)

"Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu." Yakobus 4:9-10.

Kita sebelumnya telah membahas mengenai pentingnya penyesalan dosa dan komitmen untuk berubah dalam sebuah pertobatan. Dalam ay. 9-10 Yakobus menggambarkan penyesalahan akan dosa dengan istilah ratapan dan dukacita; istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan sebuah kesedihan yang mendalam dari seseorang; dan istilah-istilah tersebut digunakan Yakobus untuk menegaskan bahwa penyesalan akan dosa itu haruslah sungguh-sunguh. 

Dalam PL, kita melihat bahwa penyesalan akan dosa sering diekspreskan melalui puasa. Ketika bangsa Niniwe akan dihukum Tuhan kerena dosa-dosa mereka yang sudah memuncak di hadapan Tuhan dan Tuhan kemudian mengutus Yunus untuk memperingatkan bangsa itu, dan kemudian penduduk Niniwe bertobat, maka Alkitab menggambarkan bahwa mereka memperlihatkan penyesalam mereka terhadap keberdosaan mereka melalui puasa. Jadi, puasa merupakan salah satu cara yang bisa kita gunakan untuk memperlihatkan kesungguhan kita dalam menyelesai kejatuhan kita dalam dosa.

Kita pasti pernah melakukan kesalahan terhadap orang lain; cara kita dalam menyatakan penyesalan terhadap apa yang kita lakukan adalah dengan meminta maaf. Pertanyaannya adalah apakah permintaan maaf yang kita sampaikan akan diterima oleh orang yang kita lukai perasaannya jika kita menyatakannya dengan tidak sungguh-sungguh, misalnya saja sambil ketawa-ketawa/bercanda; kita pasti tidak akan menerima permintaan maaf dari seseorang yang kita anggap cuma pura-pura kan?

Tuhan memang berjanji bahwa setiap dosa yang kita akui dan sesali pasti diampuni Tuhan; namun pengakuan dan penyesalan dosa yang kita nyatakan pada Tuhan haruslah sungguh-sungguh dan mendalam. Puasa sebagai bentuk/ekspresi penyesalan kota terhadap dosa mungkin dapat menjadi sebuah latihan rohani yang menolong kita untuk memiliki kesungguhan dalam menyelesaikan persoalan kejatuhan kita dalam dosa.

Yakobus menegaskan bahwa jika kita sungguh-sungguh merendahkan diri kita dihadapan Tuhan, maka Ia akan meninggikan kita. Tentu maksud Yakobus adalah penyelesaian dosa dengan benar akan membawa bukan saja pada pengampunan namun pemulihan. Dosa membawa kita pada penghukuman dan kehancuran diri sendir; sebaliknya penyelesaian dosa akan membawa kota pada hubungan yang kembali benar dihadapan Tuhan.

Itulah sebabnya, kita perlu menyelesaikan setiap dosa yang kita lakukan. Adalah hal yang baik, jika kita setiap hari memikirkan dan mengevaluasi hidup kita, apakah kita sudah jatuh dalam dosa-dosa tertentu. Jika kita hari itu jatuh dalam dosa, mintalah ampun kepada Tuhan. Jangan tunda-tunda membereskan dosa sebab dosa yang tidak diselesaikan akan membawa hal buruk dalam hidup kita.

Jumat, 06 Desember 2013

Penyesalan Dosa dan Pertobatan (Yakobus 4:8)

"Mendekatkan kepada Allah dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati." Yakobus 4:8

Yakobus masih membicarakan mengenai kerendahan hati; orang yang rendah hati adalah orang yang menyadari bahwa dirinya membutuhkan Tuhan; itulah sebabnya Yakobus meminta supaya pembaca suratnya mendekat kepada Allah. Apakah yang Yakobus maksudkan dengan "mendekat kepada Allah?" Pada umunnya, istilah tersebut digunakan dalam konteks ibadah; namun dalam konteks Yakobus 4, istilah tersebut digunakan dalam konteks pertobatan. Itulah sebabnya Yakobus mengaitkan ajakan untuk mendekat kepada Allah dengan perintah supaya kita mentahirkan tangan kita dan mensucikan hati kita.

Kita mungkin bertanya-tanya, bagaimana mungkin orang berdosa bisa mendekat kepada Allah, bisa mentahirkan tangannya dan bisa mensucikan hatinya sendiri? bukankah Alkitab juga mengajarkan bahwa dalam keberdosaannya manusia tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tentu saja, Yakobus melihat hal yang sama, namun ia melihat dari sisi yang berbeda. Anugerah Allah memang mutlak dibutuhkan supaya seseorang dapat diselamatkan; meskipun demikian, anugerah Allah tidak berkerja secara sepihak; maksudnya anugerah Allah bekerja melalui kehendak manusia sehingga kita pada dasarnya secara aktif mengambil keputusan untuk bertobat dan menerima Kristus. Yakobus berbicara dari sisi tersebut; ia melihat dalam anugerah Allah, manusia perlu datang jepada Tuhan, menyesali dosa-dosanya dan memiliki komitmen yang sungguh-sungguh untuk hanya hidup bagi Tuhan (tidak mendua hati).

Apa yang Yakobus ajarkan kepada kita memperlihatkan bahwa keselamatan adalah anugerah Tuhan sepenuhnya yang berkerja secara efektif dalam diri kita melalui pertobatan. Pertobatan sendiri selalu melibatkan dua aspek yakni penyesalan akan dosa dan komitmen untuk mempercayakan diri kepada Tuhan dan tidak lagi hidup dalam dosa. 

Ada seorang ibu yang karena beban mental yang berat, ia kemudian suka melakukan kekerasan kepada anak-anaknya. Setiap kali ibu ini melakukan kekerasan kepada anak-anaknya, ia kemudian merasa sangat menyesal; terkadang ia menangis dan kemudian meminta maaf kepada anak-anaknya; namun keesokan harinya ia kembali melakukan hal yang sama.

Banyak orang mengalami seperti ibu di atas saat mereka berdosa; ketika orang Kristen berdosa, kita datang kepada Tuhan dan meminta maaf; kita mengatakan kepada Tuhan bahwa kita menyesal telah melakukan dosa; namun anehnya penyesalan itu hanya terjadi sekitar 5 menit selama kita berdoa, setelahnya kita segera lupa dengan penyesalan kita. Hal ini menimbulkan pertanyaan benarkah kita menyesali perbuatan dosa kita dan benarkan kita sudah bertobat dari dosa tersebut? jika kita membaca Mazmur 51, yang menceritakan mengenai penyesalan dan pertobatan Daud, kita melihat bahwa penyesalan dan pertobatan Daud sungguh mendalam dan serius; penyesalan dan pertobatan Daud jauh lebih dalam dan serius dari pada penyesalan akan dosa dan pertobatan yang biasa kita lakukan dihadapan Tuhan.

Yakobus mengingatkan kita bahwa pertobatan yang sejati itu melibatkan komitmen dan perubahan; tangan dan hati harus berubah, barulah kita dikatakan bertobat. Artinya, baik perbuatan, pemikiran dan hati kita memang harus berbalik arah terlebih dahulu baru kita bisa benar-benar bertobat. Mari kita merenungkan apakah pengakuan dan penyesalan dosa yang kita biasa lakukan adalah pengakuan dan penyesalan yang sejati di hadapan Tuhan?

Kamis, 05 Desember 2013

Kerandahan Hati dan Ketaatan (Yakobus 4:7)

"Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah iblis, maka ia akan lari dari padamu." (Yakobus 4:7)

Yakobus masih membicarakan mengenai kerendahan hati. Jika sebelumnya (dalam ay. 6), Yakobus mengaitkan kerendahan hati dengan kesombongan; orang yang rendah hati adalah lawan dari orang sombong; jika orang sombong merasa dirinya benar, maka orang yang rendah hati tahu bahwa dirinya orang berdosa. Dalam ayat 7, Yakobus sekarang berbicara mengenai kerendahan hati dalam konteks ketaatan kepada Tuhan. Yakobus memandang seorang yang rendah hati tidak sekedar tahu bahwa dirinya orang berdosa, namun orang rendah hati akan menyerahkan dirinya kepada Tuhan; dan bagi Yakobus, kenyerahkan diri kepada Tuhan artinya menempatkan diri dibawah otoritas Tuhan. Seseorang yang menempatkan dirinya dibawah otoritas Tuhan, maka ia akan mentaati Tuhan dengan sukarela dan sukacita.

Yakobus juga mengatakan bahwa jika orang percaya mentaati Tuhan, maka iblis akan lari dari kita. Pekerjaan iblis adalah memisahkan atau menjauhkan manusia dari Tuhan; seseorang yang rendah hati (tahu siapa dirinya dalam Tuhan) dan hidup dekat degan Tuhan (itulah sebabnya ia mentaati Tuhan), ia pastilah tidak bisa disahkan/dijauhkan dari Tuhan. Inilah yang membuat Yakobus yakin bahwa orang yang taat kepada Tuhan pasti akan mengalahkan pekerjaan iblis.

Ketaatan kepada Tuhan adalah bagian penting dalam kehidupan seorang Kristen. Ketaatan kepada Tuhan bahkan bisa dikatakan sebagai salah satu tujuan dari kira diselamatkan Tuhan. Kita diselamatkan Tuhan bukan untuk hidup dalam dosa ataupun bagi diri sendiri, namun untuk hidup bagi Tuhan (untuk mentaati Tuhan). Bagi orang percaya mentaati Tuhan bukanlah sebah beban, namun sebuah anugerah; mengapa demikan? Sebab dalam ketaatan kepada Tuhan seseorang akan dibawa kepada kebahagiaan sejati. Jika manusia hidup dalam dosa, ia akan dibawa pada kehancuran hidup, maka ketaatan kepada Tuhan akan membawa manusia kepada kebahagiaan.

Sewaktu Luther menjelang akhir hidupnya, lawan-lawan Luther ingin melihat bagaimana rupa dirinya setelah mati. Banyak orang dizaman itu percaya bahwa orang yang berdosa dan meninggalkan gereja akan mati dengan wajah yang mengerikan. Meskipun demikian, saat Luther meninggal, ia meninggal dengan wajah yang tenang dan bahagia. Luther sepanjang hidupnya mencoba untuk mentaati setiap Firman yang dia pahami; dan orang seperti ini mengakhiri hidupnya dengan kebahagiaan.

Kita sering menyangka bahwa kebahagiaan datang saat kita memiliki apa yang kita inginkan; kita kenyangka bahwa kita akan bahagia jika cita-cita kita tercapai atau target-target hidup kita berhasil dicapai. Kebahagiaan yang didapatkan dari hal-hal ekternal adalah sementara. Jika kita ingin memiliki kebahagiaan hidup sejati, kuncinya adalah hidup dalam ketaatan kepada Tuhan.

Selasa, 03 Desember 2013

Sombong Vs Rendah Hati (Yakobus 4:6)

"Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan "Allah menentang orang-orang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus 4:6)

Dalam PL gagasan keadilan Allah dibicarakan tidak terlepas dari kasih Allah. Misalnya saja, dalam peristiwa penghukuman manusia di zaman Nuh; kecemburuan Allah dan keadilan Allah membuat Ia menghukum manusia saat manusia hidup dalam dosa; namun dalam keadilan-Nya, kasih Allah tetap nyata, itulah sebabnya Allah masih menyelamatkan Nuh dan keluarganya bahkan membangun perjanjian yang baru dengan mereka. Kerangka yang sama nampaknya ada dalam pemikiran Yakobus saat ia membicarakan mengenai pribadi Allah yang pencemburu, namun di sisi yang lain Allab juga adalah pribadi yang penuh kasih.

Yakobus menegaskan bahwa kasih Allah lebih besar dari pada kecemburuan atau kemarahan Allah terhadap dosa; maksudnya tentu adalah Allah lebih suka melihat manusia bertobat ketimbang melihat manusia dibinasakan sebagai hukuman dari dosa-dosa mereka. Itulah sebabnya, Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk luput dari penghukuman Allah. Allah akan mengasihani atau mengampuni orang-orang yang renah hati. Siapakah yang dimaksudkan dengan orang-orang yang renah hati di sini? Tentu yang Yakobus maksudkan dengan rendah hati adalah orang-orang yang mau mengakui segala dosa-dosanya dihadapan Tuhan dan bertobat; orang-orang yang seperti ini akan mendapatkan kasih dan pengampunan Tuhan. Di sisi yang lain, orang-orang gang congkak; yang menganggap diri benar dan merasa tidak membutuhkan pertobatan, mereka akan berhadapan dengan penghukuman Tuhan.

Kita tentu masih ingat dengan perumpamaan yang Tuhan Yesus ceritakan mengenai dua orang yang datang menghadap Tuhan, yakni seorang Farisi dan seorang pemungut cukai. Seorang Farisi datang dengan kecongkakan dan merasa bahwa dirinya adalah yang tidak membutuhkan pengampunan, sementara itu pemungut cukai datang dengan kesadaran bahwa dirinya adalah orang berdosa, dan yang justru dinilai sebagai orang benar adalah pemungut cukai.

Kita sering kali merasa diri kita sebagai orang yang "paling benar." Itulah sebabnya kita jarang mau mendengarkan orang lain saat kita berdiskusi khususnya saat kita berbeda pendapat dengan orang lain. Sikap yang sama juga muncul saat kita menghadap Tuhan; kita sering datang menghadap Tuhan tanpa kesadaran bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang membutuhkan anugerah Tuhan; kita sering datang menghadap Tuhan dengan segala kecongkakan bahkan dengan perasaan/sikap bahwa kita lebih baik dari orang lain. Hari ini Yakobus mengingatkan kita bahwa kesombongan itu adalah sikap yang dibenci Tuhan, namun kerendahan hati dan tahu diri adalah sikap yang disukai Tuhan. Apakah kita mempunyai karakter tersebut.

Senin, 02 Desember 2013

Allah yang Cemburu (Yakobus 4:5)

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: "Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu."

Yakobus berbicara mengenai dua aspek penting dalam ayat ini. Pertama, Allah adalah Allah yang pencemburu; gagasan ini berakar dalam ajaran PL yang menegaskan bahwa Allah marah saat manusia tidak setia kepada-Nya. Kedua, Allah adalah pencipta manusia yang memberikan kepada manusia "roh" supaya manusia dapat bersekutu dengan Allah. Yakobus ingin memperingatkan jemaat yang dilayaninya bahwa Allah menciptakan manusia supaya manusia mengabdi kepada Allah; itulah sebabnya Allah akan sangat marah saat manusia memilih untuk menjadi sahabat dunia (bdk. ay. 4). Mengapa Allah marah saat manusia menjadi sahabat dunia? Jawabannya adalah sebab manusia adalah milik Allah dan bukan milik dunia; kedua, sebab Allah memiliki perasaan; ia cemburu saat umat yang dikasihinya kemudian mengkhianati Tuhan dengan jalan menjadi hidup dalam dosa (menjadi sahabat dunia).

Kita pasti pernah mengalami rasa cemburu. Rasa cemburu tentu ada yang sifatnya benar, namun ada juga yang sifatnya salah. Rasa cemburu menjadi salah saat motivasi yang mendasari hal tersebut salah dan saat cara kita mengekspresikannya juga salah. Cemburu yang kudus lahir dari kasih yang sejati. Kasih yang sejati tidak akan rela melihat orang yang dikasihinya hilang dan hancur karena sesuatu yang merusak dirinya. Hal yang sama di rasakan Allah saat ia melihat manusia hidup dalam dosa dan menjadi sahabat dunia; kasih Tuhan kepada manusia, membuat Tuhan marah saat ia melihat manusia menghancurkan dirinya sendiri dengan jalan hidup dalam dosa dan menjadi sahabat dunia ini.

Orang Kristen seharusnya memilikin sikap yang berbeda terhadap dosa dan dunia. Orang Kristen sejati pastilah tidak mau hidup dalam dosa dan menjadi sahabat dunia ini karena ia tahu bahwa hidupnya adalah milik Tuhan, dan karena ia tahu bahwa dosa akan menghancurkan baik dirinya sendiri maupun hubungannya dengan Tuhan. Sayangnya banyak orang Kristen yang menganggap dosa sebagai hal yang lumrah. Hal ini sebenarnya sangat berbahaya sebab dalam jangka panjang, kita akan terjerat dalam dosa dan sulit untuk lepas dari padanya.

Seorang muda Kristen sangat suka dengan permainan kartu; awalnya ia hanya iseng-iseng saja main kartu. Kemudian seorang temannya yang sama-sama pemain kartu mengajaknya bermain kartu dengan teman-temanya yang lain. Pada awalnya mereka hanya memakai uang taruhan kecil-kecilan, namun lama kelamaan pemuda ini mulai dikendalikan oleh keinginannya main kartu dan keinginannya untuk terus menang. Akhirnya ia terjerat dengan perjudiaan yang membawanya pada kondisi kehilangan banyak hal dalam hidupnya termasuk keluarganya sendiri.

Itulah dosa;walaupun awalnya kelihatan menyenangkan, namun dosa cepat atau lambat akan menjerat kita dan membawa kita kepada kehancuran. Itulah sebabnya Tuhan marah saat kita hidul dalam dosa sebab dosa bukan hanya menyakitkan hati Tuhan, namun dosa juga menghancurkan hidup kita sendiri. Kita harus berhenti hidup dalam dosa dan mulai hidup benar dalam Tuhan; kehidupa. Orang benar pasti akan membawa kepada kebahagiaan.